
Yogyakarta, kabarterdepan.com — Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Yogyakarta menuai sorotan setelah sebelumnya beredar informasi ditemukannya ulat sayur di salah satu makanan yang disajikan.
Hal tersebut terjadi di SMKN 4 Yogyakarta, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, DIY beberapa waktu lalu. Sekolah tersebut menjadi salah satu pelaksana program MBG pertama kalinya di Kota Yogyakarta.
Info tersebut bahkan sudah beredar di pemberitaan yang menyebutkan siswa mengalami trauma usai menemukan ulat di makanannya.
Bahkan dari informasi yang beredar, pihak sekolah sampai keberatan dengan adanya program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut, dan berencana untuk tidak melanjutkan.
Atas hal tersebut, kabarterdepan.com mendatangi SMKN 4 Yogyakarta pada Selasa (6/5/2025). Pihak sekolah menyampaikan jika ditemukan ulat pada makanan salah satu siswa benar adanya.
Kepala SMKN 4 Yogyakarta, Nur Latifah Hidayati menyampaikan pihaknya tidak keberatan dengan MBG usai kejadian ditemukannya ulat di salah satu makanan. Ia menyampaikan program tersebut akan terus berjalan meskipun ada penyesuaian.
Namun keberatan yang sebelumnya disampaikan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Widiatmoko Herbimo tersebut terkait isu pengelolaan.
Pihak sekolah hingga saat ini masih menyesuaikan dengan pendistribusian makanan kepada para siswa di tengah tugas pokok dalam mengajar dan menyelesaikan administrasi di sekolah.
Menurutnya tuntutan pelaksanaan MBG membuat pihaknya harus mengubah pengelolaan. Pasalnya, dalam pelaksanaanya MBG cukup menguras waktu mulai dari distribusi hingga pengumpulan wadah oleh para siswa.
Kendati begitu, sekolah tetap terus berupaya untuk mencari solusi, salah satunya melibatkan sumber daya manusia yang tersedia.
“Tadi juga sudah klarifikasi dengan Dinas (Disdikpora DIY), ke depan kita mencoba pola yang lain secara bergilir dengan melibatkan tenaga outsourcing,” kata Nur Latifah.
Ia menyampaikan bahwa secara tugas, tenaga outsourcing dalam hal ini petugas kebersihan dapat menyesuaikan tugasnya dengan memprioritas untuk membantu pengelolaan distribusi makanan terlebih dahulu.
Nur mengungkapkan jika secara kualitas, makanan MBG yang terdistribusi dari SPPG semakin membaik dibandingkan dengan sebelumnya.
“Yang ini perbaikanya sudah lumayan, dari variasinya sudah mulai bagus. Kadang biasanya ada yang overcook, yang seharusnya hijau segar tapi warnanya agak kecoklatan. Tapi yang diekspos di media kemarin kok yang ada ulat sayurnya,” katanya.
Usai kejadian siswa yang mendapati ulat di makanannya, pihak sekolah langsung mengganti dengan makanan cadangan.
Dirinya juga memberikan masukan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan pihak catering untuk memperhatikan sayuran yang dimasak untuk MBG.
“Catering saya sampaikan, juga kepada Babinsa terkait pilihan sayurnya agar tahan lama, seperti labu misalnya,” katanya.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Suhirman menyampaikan atas kasus temuan adanya ulat di makanan MBG di SMKN 4 Yogyakarta, pihaknya menyampaikan akan segera melakukan perbaikan bersama.
Ia menyampaikan sebelumnya secara langsung telah melakukan tinjuan di awal program MBG dan sudah berjalan dengan baik.
Setiap SPPG disebutnya telah memiliki standar sendiri, terutama jadwal makanan yang akan disajikan setiap harinya.
“Evaluasi bersama menunya kemudian jam pengantarnya tepat atau tidak,” ujarnya.
Pihaknya menyampaikan telah memanggil Kepala SMKN 4 Yogyakarta dan Kepala SPPG terkait. Pasalnya kejadian itu bukan yang pertama kali terjadi di sekolah tata boga tersebut.
Temuan ulat di salah satu makanan 1 siswa menurutnya perlu menjadi evaluasi.
Disebutnya, jika ada sekolah yang permasalahan serupa langsung berkomunikasi langsung dengan SPPG terkait.
“Harapan kami semoga program ini berjalan lancar, jika ada masalah maka dikoordinasikan bersama. Kalau ada beberapa yang kurang maka kita benahi bersama,” katanya.
Dirinya juga menyampaikan agar masalah yang terjadi di SMKN 4 tidak membuat para siswa yang lain menjadi trauma menyantap makanan MBG. (Hadid Husaini)
