Efisiensi Anggaran Bikin Hotel Lesu, Begini Respon PHRI DIY

Avatar of Redaksi
IMG 20250222 WA0088
Suasana table dinner di Hotel Tentrem Yogyakarta beberapa waktu lalu. (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Yogyakarta, Kabarterdepan.com – Efisiensi anggaran yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto membuat sektor perhotelan di Yogyakarta ketar-ketir.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono menyampaikan jika aturan yang dikeluarkan melalui Instruksi Presiden (Inpres) No.1 Tahun 2025 membuat okupansi hotel di DIY menurun.

“Ini dampak bagi PHRI sangat luar biasa, kita lost okupansi sementara ini bekisar 40 % dari Januari 2025 belum ada reservasi dari pemerintah untuk mice dan perjalanan dinas,” katanya saat dihubungi kabarterdepan.com pada Sabtu (22/2/2025).

Ia menyebut jika kegiatan mice dan perjalan dalam beberapa waktu terakhir sangat rendah terutama saat weekday.

Selain itu, Deddy menyampaikan jika UMKM, supplier dari sektor pertanian, peternakan  yang sebelumnya bekerjasama untuk menyuplai bahan makanan hotel juga terganggu.

Dirinya yang juga kembali terpilih kembali menjadi ketua perhimpunan hotel tersebut mengaku ketar-ketir untuk bisa menyiasati kebijakan pemerintah. Ia menyampaikan jika sektor pemerintahan menjadi sandaran untuk bisa menghidupi hotel.

Pemasukan hotel disebutnya tidak bisa hanya bergantung dari kenaikan okupansi saat libur akhir pekan dan hari-hari besar meskipun terjadi adanya peningkatan hunian.

“Libur hari besar itu sebulan berapa kali? Biasanya yang ramai itu jumat sampai sementara mice pemerintahan dan perjalanan dinas ngisinya senin sampai dengan jumat,” katanya.

Menyikapi kondisi saat ini, Deddy menyampaikan tidak berharap banyak kondisi perhotelan akan membaik. Dirinya mengaku juga telah mempersiapkan kemungkinan terburuk seperti melakukan PHK karyawan di perhotelan jika kondisi kunjung normal.

“Plan A kita melakukan efisiensi energi seperti lampu-lampu. Selain itu kita juga akan membidik pangsa pasar mice swasta serta lebih menggalakkan leisure dalam negeri, manca negara,” katanya.

Ia menyampaikan, untuk mengambil kebijakan tersebut perlu perhitungan yang panjang karena melihat pemasukan hotel yang kian menurun.

“Hotel-hotel yang sudah diset buat mice ini kan berubah. Untuk kamar-kamar ini masih perlu waktu dan biaya,” katanya.

Dirinya juga memiliki plan kedua yang berdampak pada para pekerja hotel. Jika dalam waktu dekat kondisi perhotelan tidak kunjung membaik, pihaknya bakal memutuskan untuk melakukan pengurangan jam kerja hingga PHK kepada karyawan.

“Karena kita bertahan tanpa tidak ada “asupan” akan sangat sulit dengan biaya operasionalnya,” katanya. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page