Mahasiswa Jogja Sindir Ucapan ‘Ndasmu’ Presiden Prabowo: Lukai Hati Rakyat 

Avatar of Redaksi
Screenshot 20250220 205601
Aksi Mahasiswa menolak kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo di depan Gedung Kepresidenan Yogyakarta, Jalan Malioboro, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (20/2/2025). (Hadid Husaini/kabarTerdepan.com)

Yogyakarta, Kabarterdepan.com – Mahasiswa Jogja memanggil mengkritik komunikasi publik yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto yang mengatakan ‘Ndasmu’ saat perayaan HUT ke-17 Partai Gerindra.

Salah satu massa aksi Jogja Memanggil, Ismanov menyampaikan jika ucapan orang nomor 1 di Indonesia tersebut tidak pantas.

“Ini ucapan (Presiden) Prabowo mengatakan ‘Ndasmu’ seperti menganggap rakyat itu adalah manusia rendah. Itu melukai hati rakyat,” katanya saat ditemui di sela-sela aksi ribuan mahasiswa di Jalan Malioboro, Ngupasan, Gondomanan, Kota Yogyakarta (Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (20/2/2025).

Ia menyampaikan jika rakyat merupakan tuan dari presiden karena dipilih melalui suara rakyat.

Ia menyampaikan jika kebijakan-kebijakan Presiden Prabowo sebagai kebijakan yang ‘absurd’ dalam 100 hari kepemimpinannya.

“Ini karena gagalnya komunikasi publik dari para menteri-menterinya. Seperti misalnya PPN 12 persen ketika menterinya menyatakan perbedaan informasi. Prabowo dan Sri Mulyani mengatakan itu hanya untuk barang mewah secara menyeluruh, sementara kondisi di pasar semua harga naik,” katanya.

“Kelangkaan LPG 3 kg karena komunikasi buruk, menandakan bahwa para menterinya dalam hal ini Bahlil tidak kompeten dalam pemerintahan,” imbuh Ismanov.

Ia menyebut Presiden Prabowo sebagai pahlawan kesiangan karena melakukan kebijakan pembatalan pembatasan LPG 3 kg di tingkat pengecer.

“Prabowo seperti superhero kesiangan. Gas akhirnya dikembalikan ke pengecer di Jogja gas LPG saja sama langka. Bahkan di Tangerang ibu-ibu lansia meninggal karena mengantri panjang,” ujarnya.

Melihat kondisi Indonesia yang semakin memburuk, Rezim saat ini disebutnya merupakan kelanjutan dari rezim pemerintahan sebelumnya.

Ia bersama dengan ribuan mahasiswa lainnya menyampaikan dalam kesempatan tersebut tidak melakukan tuntutan.

Kendati begitu, dirinya secara tegas melakukan perlawanan dan meminta agar Presiden Prabowo diturunkan dan orang-orang yang dianggap telah memberikan kesusahan kepada rakyat.

Dalam kesmepatan tersebut, ribuan mahasiswa melakukan aksi. Mereka melakukan aksi melalui pembacaan orasi, menampilkan poster hingga mengunyah lampu. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page