
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Insiden kecelakaan laut yang menimpa siswa SMPN 7 Kota Mojokerto di Pantai Drini, Yogyakarta, telah mengguncang keluarga korban, termasuk keluarga Almarhum Malven Yusuf Adh Dhuqa.
Kejadian ini tidak hanya menimbulkan rasa kehilangan yang mendalam bagi keluarga, tetapi juga memicu kekecewaan dan kemarahan terhadap pihak sekolah, yang dianggap kurang empati dalam menangani kasus tersebut.
Dalam sebuah episode podcast Kabar Terdepan yang disiarkan pada Jumat (31/1/2025), ibu almarhum Malven, Istiqomah, dan kakaknya, Salsa, memberikan pernyataan mengenai peristiwa tersebut.
Mereka mengungkapkan bahwa setelah kecelakaan terjadi, pihak sekolah secara terburu-buru meminta mereka untuk menandatangani surat yang berisi pernyataan mengikhlaskan kejadian tersebut sebagai kecelakaan laut serta menerima uang santunan, yang dirasa tidak sensitif dan tidak memberikan ruang bagi keluarga untuk berduka.
Menyikapi peristiwa ini, Komas Perlindungan Anak Jawa Timur segera turun tangan.
Sekjen Komnas Perlindungan Anak Jatim, Jaka Prima, menegaskan bahwa kasus ini harus menjadi pelajaran besar bagi semua pihak, khususnya pihak sekolah.
Ia menekankan bahwa kegiatan yang melibatkan siswa di luar sekolah, seperti outing class yang diikuti oleh ratusan siswa, adalah tanggung jawab sekolah.
KPAI menyoroti perlunya investigasi mendalam terkait kemungkinan kelalaian yang dilakukan oleh pihak sekolah dalam kejadian ini.
“Ini merupakan pelajaran yang berharga, ke depan tentu kita melihat peran serta guru. Apapun kegiatan sekolah yang berhubungan dengan kegiatan di luar sekolah, itu merupakan tanggung jawab sekolah,” kata Jaka.

KPAI juga menekankan pentingnya keadilan bagi korban dan mengingatkan agar kejadian ini tidak dianggap sebagai hal yang sepele oleh pihak sekolah.
Jaka menilai bahwa kejadian ini sudah menjadi perhatian publik dan tidak boleh dianggap remeh hanya karena dianggap sebagai kecelakaan biasa.
“Kami melihat apa tujuan dari outing class dari kelas 7 yang berangkat sampai 5 bus, apa urgensinya? Itu harus dijawab oleh pihak sekolah,” tegasnya.
Lebih lanjut, Jaka menegaskan bahwa kasus ini seharusnya tidak dipandang sebagai hal biasa, dan pihak sekolah harus memberikan penjelasan yang jelas tentang tujuan kegiatan tersebut serta tanggung jawab mereka dalam menjaga keselamatan siswa.
Dalam perspektif hukum, Jaka menyatakan bahwa meskipun tidak ada laporan resmi dari keluarga korban, pihak berwajib tetap harus bertindak.
“Kalau kita bicara tentang hukum, tanpa laporan dari korban, saya pikir pihak yang berwajib harus bisa menjelaskan apa yang terjadi, karena ini menyangkut rasa keadilan masyarakat,” ujar Jaka.
Terkait tindakan pihak sekolah yang meminta tanda tangan keluarga korban untuk mengikhlaskan kejadian tersebut, Jaka menyayangkan sikap tersebut karena dianggap kurang beretika, terutama mengingat keluarga korban masih dalam keadaan berduka.
KPAI berkomitmen untuk terus mengawal kasus ini dan memastikan bahwa proses hukum berjalan dengan adil.
Jaka menekankan bahwa jika terbukti ada kelalaian, pihak yang bertanggung jawab harus diproses secara hukum.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap orang tua pasti menginginkan kejelasan dan keadilan terkait musibah yang menimpa anak mereka, dan tidak ada orang tua yang ingin menerima begitu saja sebuah musibah yang menghilangkan nyawa.
“Orang tua mana yang mau dibiarkan sebuah musibah segampang itu? Komnas mensupport agar ada keadilan,” katanya.
Jaka juga mempertanyakan bagaimana jika kejadian serupa menimpa keluarga pejabat yang berwenang.
Ia mengungkapkan bahwa apabila itu terjadi pada keluarga pejabat, mereka pasti akan menuntut transparansi dan keadilan lebih.
“Apa yang kemudian mereka rasakan jika itu terjadi pada keluarga mereka? Para pejabat-pejabat yang hadir berbela sungkawa, ini hak orang tua korban untuk meminta pertanggungjawaban,” ungkapnya.
Sebagai penutupan, Jaka menegaskan kembali komitmen KPAI untuk memperjuangkan hak korban dan memastikan bahwa keadilan ditegakkan.
“Kami tetap concern perkara anak, rasa keadilan terhadap korban, agar korban merasa cukup karena tidak ada harga nyawa,” pungkasnya.
Sementara itu, keluarga korban berharap bahwa kejadian ini dapat menjadi momentum bagi dunia pendidikan untuk melakukan evaluasi mendalam agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan.
“Tunjukkan bahwa keadilan itu ada. Belajar dari yang sebelumnya, jangan sampai ada korban lagi,” ujar Salsa, kakak almarhum Malven.
Kasus ini telah menarik perhatian publik, dan banyak pihak mendesak agar pihak sekolah bertanggung jawab, serta meminta pemerintah untuk memberikan perhatian lebih terhadap keamanan dan keselamatan dalam kegiatan luar sekolah. (Tantri*)
