Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya, Simbol Keberagaman dan Kejayaan Islam Tionghoa

Avatar of Redaksi
Masjid Muhammad Cheng Hoo
Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya. (Inikah Cristy Natalia/kabarterdepan.com)

Surabaya, kabarterdepan.com – Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya menjadi ikon perpaduan budaya Tionghoa dan Islam yang menarik perhatian masyarakat. Berdiri sejak tahun 2002, masjid ini memiliki sejarah panjang yang mencerminkan perjuangan komunitas Tionghoa Muslim.

Ketua Takmir Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya, Ustaz Haryono, menjelaskan sejarah berdirinya masjid ini berawal dari komunitas Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI).

“Alhamdulillah, masjid ini lahir atas inisiatif Haji Muhammad Yusuf Bambang Sujanto, pendiri PITI Jawa Timur. Pada tahun 2001, beliau menggagas berdirinya Masjid Muhammad Cheng Hoo dengan nama dan arsitektur yang mencerminkan budaya Tionghoa,” ujarnya, Senin (27/01/2025).

Pembangunan Masjid Muhammad Cheng Hoo

Masjid ini resmi dibangun dengan peletakan batu pertama pada 15 Oktober 2001 dan selesai pada 13 Oktober 2002. Ustaz Haryono menyebutkan bahwa dana awal pembangunan masjid berasal dari penjualan buku Juz ‘Amma dalam tiga bahasa: Arab, Indonesia, dan Mandarin.

“Saat itu, dana yang terkumpul mencapai 500 juta rupiah, dan itulah awal dari kelancaran pembangunan masjid ini,” tambahnya.

Masjid Muhammad Cheng Hoo memiliki luas 11 x 21 meter, dengan bangunan utama berukuran 9 x 11 meter. Ukuran ini memiliki filosofi mendalam, di mana angka 9 melambangkan Wali Songo sebagai penyebar Islam di Jawa, dan angka 11 mewakili sisi Kakbah pertama yang didirikan Nabi Ibrahim AS.

Keunikan masjid ini juga terletak pada arsitekturnya yang didominasi warna merah. Warna tersebut dalam budaya Tionghoa melambangkan kebahagiaan dan keberuntungan. Bentuk atapnya pun berbentuk persegi delapan, atau dikenal sebagai Pak-Kua, yang berarti keberuntungan atau kejayaan.

“Di atap masjid, terdapat kaligrafi 20 sifat wajib bagi Allah yang ditulis dengan indah. Ini menunjukkan nilai-nilai Islam yang kental berpadu dengan filosofi Tionghoa,” jelas Ustaz Haryono.

Di sisi kanan masjid, terdapat replikasi miniatur Masjid Muhammad Cheng Hoo untuk memberikan informasi lebih kepada para pengunjung. Ustaz Haryono yang telah menjadi takmir sejak 2007 menambahkan bahwa masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol keberagaman dan keharmonisan di tengah perbedaan.

Masjid Muhammad Cheng Hoo kini telah menjadi salah satu destinasi religi di Surabaya, sekaligus saksi sejarah kontribusi komunitas Tionghoa Muslim dalam memperkaya budaya Islam di Indonesia. (Innka Cristy Natalia)

Responsive Images

You cannot copy content of this page