
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Kenaikan harga Elpiji yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir tidak memengaruhi sebagian besar pedagang roti kukus. Salah satu pedagang Roti Kukus Thailand di Mojokerto, Dian menyampaikan memang harga Elpiji sekarang naik yang harga awal Rp 18.000 menjadi Rp 20.000, dampaknya tidak begitu signifikan terhadap operasional usaha roti kukusnya.
Dian tetap menggunakan kompor gas untuk memanggang roti, tetapi mencoba mengatur penggunaan gas agar lebih efisien. Meskipun harga Elpiji naik, untuk roti kukusnya mengaku masih mampu bertahan dan menjaga harga jual produknya tetap stabil.
“Tidak ada dampak yang terlalu signifikan meski harga Elpiji sekarang naik, karena dalam proses pembuatan mengkukusnya juga tidak terlalu lama,” ujar Dian, Kamis (16/1/2025).
Sebagian pedagang lainnya juga mengungkapkan bahwa mereka melakukan beberapa penyesuaian. Meskipun ada peningkatan biaya operasional, harga roti kukus tetap dapat dipertahankan berkat permintaan pasar yang stabil pula.
“Jadi ramainya pembeli roti kukus itu di hari Sabtu, apalagi Minggu itu paling ramainya bisa terjual 100 pcs roti, jadi sesuai penggunaan kompor banyak jika pesanan banyak. Roti kukus, yang umumnya menggunakan kompor gas dalam jumlah terbatas, tidak terlalu terpengaruh oleh kenaikan harga Elpiji. Untuk pedagang roti kukus, penggunaan gas tidak sebanyak usaha-usaha lainnya yang membutuhkan gas dalam jumlah besar, seperti warung makan atau restoran. Sehingga, meskipun ada kenaikan, dampaknya tidak terlalu besar,” tambah Dian, Kamis, (16/1/2025).
Namun demikian, para pedagang berharap harga Elpiji segera kembali stabil, agar mereka dapat terus menjaga daya beli masyarakat dan kelangsungan usaha mereka.
Dian mengungkapkan inspirasi tentang Roti kukus terbaru hadir dengan inovasi unik yang memadukan cita rasa khas dengan selera orang Jawa Timur. Roti kukus yang selama ini identik dengan kelembutan dan kelezatan, kini hadir dengan varian rasa yang lebih sesuai dengan lidah orang Jawa Timur, seperti rasa manis gurih, pedasnya sambal, hingga kombinasi rasa manis asam.
Pedagang roti kukus ini ingin memperkenalkan sensasi berbeda dengan tetap mempertahankan cita rasa otentik roti kukus, namun dengan sentuhan lokal yang disesuaikan dengan selera masyarakat setempat. (Tantri*)
