Alasan Trump Akan Gunakan Kekuatan Militer untuk Ambil Alih Wilayah Penting

Avatar of Redaksi
WhatsApp Image 2025 01 10 at 14.06.21 16564b58
Presiden terpilih AS Donald Trump (X: @vinratulangi)

Internasional, Kabarterdepan.com – Presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump, kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial yang mengundang banyak perhatian dan pertanyaan. Trump menyatakan niatnya untuk mengambil alih sejumlah wilayah yang dianggap penting bagi AS, termasuk Kanada, Greenland, dan Terusan Panama. Meskipun ia mengklarifikasi bahwa ia tidak akan melangkah lebih jauh dengan niat tersebut, pernyataan ini tetap memicu berbagai spekulasi dan analisis tentang motivasi dan tujuannya.

Banyak yang beranggapan bahwa pernyataan Trump ini merupakan bagian dari visi politik “America First” yang menjadi fondasi kebijakan luar negeri dan domestik pemerintahannya. Visi ini menempatkan kepentingan nasional AS di atas segala-galanya, dengan tujuan untuk memperkuat posisi Amerika di dunia, terutama di tengah munculnya tantangan dari kekuatan-kekuatan baru seperti China, Rusia, Venezuela, dan Iran. Meskipun mengklaim akan mengambil alih wilayah tersebut mungkin tampak sebagai langkah yang tidak realistis dan berisiko, ada anggapan bahwa ini merupakan bagian dari strategi untuk memberikan tekanan kepada negara-negara tersebut agar lebih memperhitungkan kepentingan AS dalam hubungan internasional.

Salah satu contoh konkret dari apa yang diinginkan Trump adalah upaya untuk memperoleh kesepakatan yang lebih menguntungkan bagi AS dalam berbagai bidang, seperti perdagangan dan akses ke sumber daya alam. Misalnya, jika Trump menekan Greenland, ada kemungkinan bahwa AS bisa memperoleh akses yang lebih besar ke cadangan mineral tanah jarang yang ada di wilayah tersebut. Selain itu, dengan mencairnya es di kutub, jalur laut yang sebelumnya tertutup kini menjadi lebih terbuka, yang dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi AS, terutama dalam hal pengiriman barang antar Samudra Atlantik dan Pasifik.

Tidak hanya Greenland yang menjadi fokus perhatian Trump, tetapi juga Kanada. Ancaman untuk mengambil alih Kanada mungkin bertujuan untuk mendorong negosiasi ulang dalam perjanjian perdagangan yang dapat menguntungkan produsen-produsen AS. Sebagai contoh, dalam upaya untuk meningkatkan keuntungan ekonomi bagi AS, Trump dapat berusaha mencapai kesepakatan yang lebih menguntungkan untuk kapal-kapal Amerika yang melintasi jalur perdagangan utama yang ada di Terusan Panama.

Namun, terlepas dari klaim-klaim tersebut, pernyataan Trump ini mencerminkan pendekatan kebijakan luar negeri yang lebih agresif dan satu dimensi, yang cenderung memandang dunia melalui lensa kepentingan nasional semata. Dalam pandangan Trump, negara-negara besar seperti AS tidak perlu ragu untuk mengejar kepentingan mereka dengan cara-cara yang kuat dan bahkan agresif. Hal ini tercermin dalam pernyataannya di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2020, di mana ia dengan tegas menyatakan bahwa setiap negara seharusnya mengutamakan kepentingan nasional mereka, sebagaimana AS juga melakukan hal yang sama.

Pendekatan keras Trump ini juga mencakup pandangannya yang cenderung mengaburkan batas antara sekutu dan musuh. Misalnya, meskipun Kanada adalah sekutu geografis yang dekat dengan AS, Trump mengkritik negara tersebut karena dianggap hanya memanfaatkan perlindungan militer dari AS tanpa memberikan kontribusi yang sebanding. Dalam pandangannya, ini menunjukkan bahwa Kanada, yang merupakan negara tetangga terdekat, seharusnya menjadi bagian dari Amerika Serikat, atau setidaknya lebih memperhatikan kepentingan AS dalam kebijakan luar negerinya.

Meski mengancam dengan tindakan agresif seperti menyerang Terusan Panama atau merebut Greenland, Trump sesungguhnya tetap menyatakan bahwa AS harus menghindari keterlibatan dalam konflik internasional yang baru, sebagaimana yang sering ia tekankan dalam kampanye politiknya. Hal ini mencerminkan sebuah dilema dalam kebijakan luar negeri Trump, di satu sisi ia menuntut AS untuk memprioritaskan kepentingannya dan bertindak tegas, namun di sisi lain ia juga ingin menghindari keterlibatan dalam perang atau konflik yang berpotensi menguras sumber daya.

Selain itu, pandangan Trump tentang Terusan Panama juga menyoroti kritiknya terhadap keputusan yang diambil pada 1999, saat AS menyerahkan kendali atas terusan tersebut kepada Panama. Trump menilai keputusan itu sebagai sebuah kesalahan besar, yang justru memberi kesempatan bagi China untuk memperluas pengaruhnya di kawasan tersebut. Trump bahkan mengklaim bahwa kapal-kapal Amerika kini dikenakan biaya lebih tinggi dan diperlakukan tidak adil dibandingkan dengan kapal-kapal dari negara lain. Menurutnya, China lah yang sebenarnya memanfaatkan jalur tersebut, bukan Panama, dan AS telah keliru dalam menyerahkan kontrol atas terusan yang vital itu.

Pandangan ini juga diperkuat oleh suara politikus AS seperti Senator Marco Rubio, yang berbagi pandangan dengan Trump mengenai ancaman yang ditimbulkan oleh ekspansi pengaruh China di Amerika Latin. Rubio berpendapat bahwa pengaruh ekonomi China di kawasan tersebut dapat merusak stabilitas ekonomi di Amerika Serikat dan memperburuk situasi, yang bisa menjadi ancaman serius bagi posisi AS sebagai kekuatan dominan di belahan dunia ini. Dalam pandangannya, ketegangan yang ditimbulkan oleh pengaruh China di Amerika Latin dan Karibia bisa menjadi faktor yang sangat merugikan bagi keamanan nasional AS.

Trump dan Rubio bersepakat bahwa AS harus menghadapi ancaman ini dengan lebih agresif dan tidak ragu untuk bertindak demi memastikan bahwa negara-negara besar dan kuat seperti China tidak dapat mendominasi kawasan yang dekat dengan Amerika Serikat. Mengabaikan pengaruh China, menurut mereka, akan berisiko besar bagi stabilitas kawasan tersebut dan keamanan global yang lebih luas.

Dengan demikian, meskipun langkah-langkah yang diusulkan Trump terhadap negara-negara seperti Kanada, Greenland, dan Panama mungkin dianggap sebagai tindakan yang terlalu ambisius atau bahkan tidak realistis, mereka tetap mencerminkan pendekatan luar negeri yang keras dan pragmatis. Sebagai presiden, Trump mengedepankan filosofi “America First”, yang menempatkan kepentingan nasional AS di atas segalanya dan menuntut setiap negara untuk mengejar tujuan mereka secara tegas dan dengan cara yang menguntungkan pihak yang lebih kuat. (Tantri*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page