
Mojokerto, Kabarterdepan.com – Di tengah gemuruh modernisasi dan kemajuan teknologi, beberapa warisan budaya tradisional masih bertahan di pelosok Indonesia. Salah satunya adalah kapal khas Mojokerto, yang memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan kehidupan maritim masyarakat Jawa Timur.
Warisan sejarah “Perahu Majapahit” tidak begitu saja hilang, kini keberadaannya bisa dilihat oleh mata seluruh masyarakat Mojokerto terutama saat melintas di Jalan Mergelo, Miji, Prajurit Kulon, Kota Mojokerto.
Perahu Majapahit” memiliki jejak sejarah yang menghubungkan kejayaan kerajaan-kerajaan masa lampau dengan tradisi pelayaran yang telah ada sejak berabad-abad lalu. Berdasarkan catatan sejarah, perahu ini digunakan oleh masyarakat lokal, terutama nelayan dan pedagang, untuk menjelajahi jalur-jalur pelayaran yang menghubungkan pelabuhan-pelabuhan penting di sepanjang pantai utara dan selatan Jawa.
Pada masa kejayaan Majapahit tahun 1328-2389M masa kepemimpinan Tribuwana Tunggadewi, kekuasaan semakin meluas bersama Gajah Mada. Kekuasaan itu mulai dari wilayah Indonesia hingga Filipina, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Bersumber dari kitab Negarakertagama, Pararaton, Prasasti Canggu hingga relief Candi Borobudur mengambarkan adanya trasportasi laut tersebut di masa Kerajaan Majapahit kala itu.
Masyarakat Mojokerto, yang dikenal sebagai pelaut ulung, mengembangkan teknik pembuatan kapal perahu dengan ciri khas tertentu. Kapal ini memiliki struktur yang kokoh dan mampu bertahan dalam perjalanan laut yang cukup lama. Desain “Perahu Majapahit” terbuat dari kayu-kayu pilihan yang tahan lama, dan dihiasi dengan ukiran-ukiran khas Jawa yang memperkaya nilai estetika dan budaya.
Pada masa itu, Mojokerto dikenal sebagai pusat perdagangan yang sibuk, di mana perahu-perahu ini menjadi simbol vitalitas ekonomi kawasan tersebut. Nelayan dan pedagang yang menggunakan “Perahu Majapahit” tidak hanya mengandalkan keterampilan maritim mereka, tetapi juga pengetahuan tentang angin, arus laut, dan cuaca, yang diwariskan secara turun-temurun.
Namun, seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi perkapalan modern telah menggeser peran perahu tradisional. Kapal-kapal besar dengan mesin canggih kini mendominasi jalur-jalur pelayaran, meninggalkan perahu tradisional yang sempat menjadi ikon kehidupan maritim di Mojokerto.
Dengan upaya pelestarian yang terus dilakukan, “Perahu Majapahit” akan terus mengarungi zaman, membentangkan layar kebanggaan sebagai bukti kecintaan dan ketangguhan masyarakatnya terhadap warisan sejarah yang tidak ternilai harganya. (Tantri*)
