
Sragen, kabarterdepan.com – Intensitas curah hujan sangat tinggi di wilayah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur menyebabkan Jembatan Winong Desa Tunggul, Kecamatan Gondang Kabupaten Sragen ambrol akibat tersapu derasnya arus sungai.
Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kabupaten Sragen menyebutkan, diperlukan penanganan khusus untuk jembatan yang ambrol pada Minggu (16/12/2024) malam. Hal itu berdasarkan hasil survei di lapangan yang dilakukan DPU Sragen.
Kondisi eksisting Jembatan Winong 1 yang berada di ruas Jalan Tunggul-Winong mempunyai panjang bentang sekitar 11,4 meter terbagi dua bentang masing masing berukuran panjang 5,2 m sedangkan lebar jembatan mencapai 4,5 meter
Berdasarkan analisa, rencana pembangunan Jembatan Winong baru ke depan diperlukan penambahan volume panjang dan lebar jembatan.
Untuk ke depan, panjang jembatan Winong akan ditambah menjadi 30 meter, sedangkan lebar juga akan diperbaharui menjadi 7 meter. Kemudian tinggi jembatan akan ditambah menjadi 10 meter dari dasar sungai.
Sedangkan untuk rencana usulan pembangunan jembatan Winong baru, dari hasil kajian tim teknis DPU dilapangan estimasi anggarannya mencapai Rp 5 Miliar.
Hal itu dikatakan Ketua Tim Pemeliharaan Jalan dan Jembatan DPU Sragen, Stefanus Priyo Harjanto saat dikonfirmasi pasca sidak dilokasi kejadian, Senin (16/12/2024) malam.
Priyo menyebutkan, kondisi jembatan Winong 1 yang ambrol untuk saat ini sama sekali tidak bisa diakses baik dari kecamatan Sine Kabupaten Ngawi maupun sebaliknya.
“Akses jalan menuju Ngrambe, Ngawi, Jawa Timur dan Desa Jambean sementara ini ditutup dan dialihkan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Priyo menyarankan, kondisi tanah pada sisi timur dan barat jembatan mengalami longsor atau terkikis sedikit demi sedikit karena arus sungai. Sedangkan kondisi talud sebelah utara jembatan sepanjang Sungai Winong mengalami longsor.
“Hasil survei dan analisa sudah sudah kita sampaikan kepada Kepala dinas DPU dan OPD terkait,” pungkas Priyo.
Sementara, dari informasi yang diterima dari warga masyarakat setempat, jembatan tersebut dibangun bersamaan dengan pembangunan Bendung Winong pada zaman Belanda, yakni sekitar 1935.
Warga berharap kepada pemerintah kabupaten Sragen untuk segera membangun kembali jembatan Winong tersebut, segera dibangun karena jembatan itu menjadi satu satunya alternatif akses ekonomi warga sekitar. (Masrikin).
