
Jember, kabarterdepan.com- Pemerintah Kabupaten Jember bekerja sama dengan BKKBN kembali menggelar monitoring dan evaluasi tim percepatan penurunan stunting (TPPS). Kali ini, bertempat di Kecamatan Umbulsari dan Gumukmas, Rabu (6/11/2024).
Kegiatan tersebut dilaksanakan, dalam rangka mengoptimalisasi pendampingan keluarga berisiko stunting.
Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana Poerwahjoedi menyatakan bahwa kegiatan ini sangat penting dilakukan. Salah satunya, sebagai bahan evaluasi untuk memaksimalkan penanganan stunting pada 2025.
“Tak hanya dari hilir, penanganan stunting juga dilaksanakan dari hulu.
Misalnya, pencegahan berbagai bentuk faktor penyebab stunting pada tahun lalu hingga tahun ini,” ungkapnya.
Poerwahjoedi menegaskan pernikahan anak per Oktober tahun ini turun sebesar 39 persen dari bulan yang sama tahun lalu.
Terpisah tanggapan Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Jember Kholil Asy’ari, mengatakan bahwa permasalahan Stunting, Kabupaten Jember masih menempati urutan ketiga dari bawah. Oleh sebab itu menurut Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Jember Kholil Asy’ari, semua jajaran, baik Bupati hingga RT RW, harus bekerja secara komprehensif.
“Jangan sampai terjadi saling lempar, permasalahan ini merupakan tanggung jawab bersama, sehingga dibutuhkan kerja yang maksimal. Juga diberikan sosialisasi penyadaran,” katanya.
Namun yang lebih penting, kata legislator Partai Golkar itu, melakukan upaya bukan hanya sekedar sosialisasi, tetapi langkah nyata, yang lebih konkret.
“Diantaranya melalui program one day one egg, dengan demikian, permasalahan tersebut dapat diselesaikan,” katanya.
Agar pelaksanaan program itu berjalan lancar, maka DPRD Kabupaten Jember berkomitmen untuk mendorong alokasi anggaran yang cukup.
“Jadi begini, setiap kecamatan sudah menganggarkan, soal anggaran gak ada persoalan, Monggo sudah,” tandasnya. (Lana)
