Karangan Bunga Satire BEM FISIP Unair Berujung Pembekuan oleh Dekanat

Avatar of Redaksi
WhatsApp Image 2024 11 01 at 10.13.40 e51b0290
Potret karangan bunga satire oleh BEM Fisip Unair yang diletakkan di Taman Barat FISIP Unair, Selasa (22/10/2024). (Instagram @bemfisipunair / Kabarterdepan.com)

Surabaya, Kabarterdepan.com – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, dibekukan oleh Dekanat setelah memasang karangan bunga dengan ucapan satir terkait pelantikan Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Karangan bunga tersebut diletakkan di Taman Barat FISIP Unair, Selasa (22/10/2024) dengan tulisan,’Selamat atas dilantiknya jenderal bengis pelanggar HAM dan Profesor IPK 2,3 sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang lahir dari rahim haram konstitusi’.

Namun, akibat diletakkan di lokasi strategis yang dilewati banyak orang, karangan bunga tersebut menjadi viral di media sosial X dan TikTok dan mendapatkan dukungan dari banyak mahasiswa.

Menurut Berita Acara yang dibagikan melalui akun Instagram @bemfisipunair, Kamis (24/10/2024), Ketua Komisi Etik Fakultas telah memanggil BEM FISIP Unair untuk memberikan klarifikasi mengenai karangan bunga tersebut.

Pada Jumat (25/10/2024) pukul 09.03 WIB, Presiden BEM FISIP Unair beserta wakil dan menteri kajian politik dan strategis hadir memenuhi panggilan Komisi Etik Fakultas.

Di sore hari yang sama, BEM FISIP Unair menerima surel dari dekanat yang berisi surat No. 11048/TB/UN3.FISIP/KM.04/2024. Surat itu menyatakan bahwa pembekuan dilakukan karena penggunaan narasi dalam karangan bunga yang dianggap tidak sesuai dengan etika dan kultur akademik kampus serta pemasangannya tanpa izin dan koordinasi dengan pimpinan fakultas.

Dengan demikian, Dekanat FISIP Unair memutuskan untuk membekukan kepengurusan BEM FISIP Unair mulai hari itu dan menunggu diterbitkannya Surat Keputusan Dekan FISIP Unair selanjutnya.

Presiden BEM FISIP Unair, Tuffahati Ullayyah Bachtiar, menjelaskan bahwa karangan bunga tersebut merupakan ungkapan kekecewaan terhadap Pemilu 2024.

“Karangan bunga tersebut adalah karya seni satir yang bertujuan untuk mengungkapkan ekspresi kekecewaan atas rentetan fenomena yang terjadi selama Pemilu 2024,” ucap Tuffa kepada wartawan saat diwawancarai, Sabtu (26/10/2024).

Tuffa menambahkan bahwa BEM FISIP berkomitmen untuk memberikan manfaat bagi seluruh civitas akademika FISIP Unair termasuk menumbuhkan jiwa kritis dan kepedulian sosial di kalangan mahasiswa.

“Adapun janji kami hampir seluruhnya terwujud melalui puluhan program kerja dan agenda yang telah terlaksana dan sedang dilaksanakan. Termasuk pembuatan karya seni satir ini,” jelasnya.

Saat ditanya alas an dari pembuatan karangan bunga tersebut, Tuffa mengaku jika selama ini pihaknya tengah mengkaji soal isu pelanggaran HAM di Indonesia, selama satu periode kepengurusan kabinet Panca Aksara. Mereka telah mempersiapkan kajian ilmiah yang belum dipublikasikan.

“Kami ada kajian ilmiahnya tetapi belum kami publikasi, selama satu periode ini kami gencar mengawal isu pelanggaran HAM,” ungkapnya.

Melalui Kementerian Politik dan Kajian Strategis, mereka telah melakukan berbagai diskusi dan merencanakan karya seni satire ini dua minggu sebelum pelantikan Presiden Prabowo-Gibran.

“Kami sudah merencanakannya 2 minggu menjelang pelantikan presiden,” tambahnya.

Meskipun sudah menerima surel yang menyatakan pembekuan BEM FISIP Unair, Tuffa menekankan bahwa mereka tidak akan menyerah. Kabinetnya akan terus berjuang hingga masa kepemimpinannya berakhir.

“Sampai berita acara ini dirilis, belum ada proses diskusi lebih lanjut dengan Dekan FISIP perihal surat pemberitahuan pembekuan BEM. Kami sepakat untuk tidak menyerah untuk memproses keadilan bagi seluruh fungsionaris dan tetap melanjutkan perjuangan sampai waktu demisioner yang telah ditentukan,” tegasnya.

Sementara itu, Presiden BEM Unair, Aulia Thaariq Akbar, mengonfirmasi pembekuan tersebut dan menyatakan bahwa pihaknya terus berkomunikasi untuk memberikan bantuan advokasi jika diperlukan.

“Ini saya terus komunikasi dengan presbemnya (FISIP) sambil menunggu pertemuan dengan dekan,” ujar Aulia Thaariq. (Riris*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page