FKPT Dorong Pendidik di Banyuwangi jadi Gerbang Tolak Intoleransi dan Radikalisme

Avatar of Redaksi
Screenshot 20241024 153328
Kadispendik Banyuwangi (hitam) bersama FKPT Jawa Timur. (Fitri Anggiawati/kabarterdepan.com)

Banyuwangi, kabarterdepan.com – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jawa Timur mendorong para pendidik di Banyuwangi untuk menjadi garda terdepan penolakan terhadap sikap intoleransi dan radikalisme.

Hal tersebut disampaikan saat kegiatan FKPT bertajuk ‘Membangun sinergitas untuk melindungi anak bangsa dari bahaya intoleransi dan radikalisme’ yang digelar di Banyuwangi, Kamis, (24/10/2024).

Menggandeng Dinas Pendidikan Banyuwangi, kegiatan tersebut diikuti ratusan guru dengan pembicara, Ketua FKPT Jatim Prof Dr Hj Hesti Armiwulan, Kabid Agama dan Budaya FKPT Jatim Ustadz Moch Arifin.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno mengatakan bahwa masyarakat Banyuwangi berwatak terbuka dan kultur apa saja bisa membaur dengan masyarakat dan diterima secara wajar.

“Yang harus diwaspadai adalah sikap-sikap yang bertentangan dengan kepribadian masyarakat. Sikap intoleransi misalnya, harus dihindari dan dijauhkan karena sosialisasi sangat penting sebagai antisipasi,” kata Suratno.

Para pendidik pun disebutnya memiliki tanggungjawab yang tak ringan karena menyangkut masa depan bangsa dan negara yang harus dipersiapkan dengan kekuatan sehingga generasi berkualitas, berkarakter dan berkepribadian tetap terjaga.

“Masyarakat Banyuwangi mempunyai watak yang khas dan tetap mempertahankan tradisi. Sehingga dengan begitu, mampu membentengi masyarakat dari nilai-nilai yang tak selaras dengan kepribadian kita,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua FKPT Jawa Timur, Hesti Armiwulan mengingatkan tentang tren aksi terorisme di Indonesia yang pada tahun 2023 adalah zero terrorist attact di Indonesia.

“Namun di bawah permukaan terjadi peningkatan gerakan ideologi secara sistematis, masif dan terencana untuk memperkuat organisasi dan proses radikalisasi dengan target perempuan, anak dan remaja,” jelasnya.

Sementara itu, kebijakan pemerintah melalui BNPT dilakukan untuk mempersempit ruang gerak penyebaran ideologi radikalisme, kontra radikalisasi dan deradikalisasi mengembalikan pemahaman kelompok radikal dari extrim menjadi moderat.

“Target utamanya adalah anak, perempuan, remaja. Karena itu, perlu dipahami adanya metode propaganda dan rekrutmen jaringan teror,” ungkapnya.

Hesti juga mengingatkan, perempuan kini tidak lagi sebagai korban terorisme, melainkan kini juga cenderung sebagai pelaku aksi teror karena pengaruh dunia maya dan ponsel.

Gadget menjadi media penyebaran sikap intoleransi yang pada ujungnya ke arah terorisme, sehingga peran para pendidik dibutuhkan untuk bisa menjelaskan bahaya ekstremisme dan radikalisme.

“Sehingga anak didik kita bisa selamat dari sifat dan sikap buruk bagi generasi muda,” tegasnya. (Fitri)

Responsive Images

You cannot copy content of this page