Jenis Makanan yang Harus Dihindari Agar Anak Tidak Cuci Darah

Avatar of Redaksi
IMG 20240813 WA0051
Lucia Sri Winarni Susilowati (kiri berdiri). (Humas Dishanpan Provinsi Jateng for kabarterdepan.com)

Semarang, Kabarterdepan – Sebagaimana dilansir sejumlah media terkait banyaknya anak yang terpaksa harus menjalani cuci darah akibat konsumsi makanan dan minuman yang kurang tepat, menjadi perhatian saat kegiatan Tim Penggerak (TP) PKK Kabupaten/Kota, yang digelar di Monumen PKK, Ungaran, Kabupaten Semarang, pekan lalu.

Ada beberapa jenis makanan yang dikurangi atau bahkan dihindari untuk dikonsumsi agar anak terhindar dari cuci darah.

Hal tersebut dikemukakan Kepala Bidang Penganekaragaman Konsumsi Pangan Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Provinsi Jawa Tengah, Lucia Sri Winarni Susilowati di kantornya melalui sambungan telepon, Selasa (13/8/2024).

“Saatnya kita ubah pola pikir tentang konsep, bukan lagi makan kenyang, tapi menjadi makan sehat. Baca kandungan yang ada di kemasan makanan. Hindari makanan berpengawet, mengandung pewarna, dan yang terlalu manis. Jangan meracuni anak-anak kita. Lebih baik bikin jus aja,” tandasnya.

Konsumsi anak, remaja, dan orang tua, ujar Lucia, tidaklah sama. Namun, masih banyak orang berpikiran, jika makanan yang mesti dihindari orang dewasa, seperti yang bisa mengakibatkan kolesterol, asam urat, juga tidak boleh diberikan untuk anak-anak.

“Contohnya gule. Bapaknya menghindari karena kolesterol, anaknya juga tidak diberi. Padahal, anak butuh minyak, butuh santan. Makanya, penting untuk mengetahui kebutuhan makanan pada anak dan dewasa,” bebernya.

Lucia menambahkan makanan beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA), mesti diperhatikan, agar tumbuh kembang anak tidak terhambat, serta terhindar dari stunting.

“B2SA tidak mahal, asal bisa memanfaatkan lahan pekarangan,” ujar Lucia.

Dalam kesempatan berbeda, Penjabat Ketua TP PKK Jateng, Shinta Nana Sudjana, mengatakan, potensi pangan lokal Jateng sangat bervariasi. Oleh karena itu, melalui gerakan PKK ini, Shinta mengajak kader PKK di daerah mampu mengoptimalkan hal tersebut.

“Kita masih harus mengejar penurunan stunting. Untuk mencapai hal itu, kegiatan sosialisasi,pelatihan pemanfaatan pekarangan mesti terus dilakukan. Sebab, kampanye tidak bisa hanya dilakukan sekali, melainkan harus kontinyu, sekaligus mengingatkan diri, apakah program kedaulatan pangan yang dilakukan sudah efektif,” ujarnya.

Harapan Shinta, setelah memperoleh sosialisasi, kadernya menyebarluaskan ilmu hingga tingkat Dasa Wisma.

“Masing-masing daerah memiliki local wisdom masing-masing. Bagaimana memanfaatkan pekarangan tentunya berbeda, daerah dingin tanaman apa yang cocok. Berbeda lagi dengan pesisir,” imbuh Shinta.

Ditambahkan, salah satu materi yang diberikan dalam sosialisasi adalah Budikdamber atau Budidaya Ikan Dalam Ember. Melalui cara ini, kader PKK bisa memanfaatkan pekarangan untuk menanam sayuran plus beternak ikan lele.

“Materi lain adalah pertanian vertikultur. Teknik bertanam di lahan sempit, dilakukan dengan membuat media bertingkat dan ditanam dalam pot, polybag, serta bekas botol minuman,” pungkasnya. (Ahmad)

Responsive Images

You cannot copy content of this page