
Grobogan, kabarterdepan.com – Prevalensi angka penurunan stunting berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 kabupaten Grobogan sebesar 20,2 persen, sedangkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) di tahun 2022 sebesar 19,3 persen.
Angka penurunan stunting juga terjadi di beberapa wilayah yang berdekatan dengan Kabupaten Grobogan, seperti halnya Kabupaten Semarang dengan SSGI nya 18,7 persen dan SKI sebesar 18,8 persen, kemudian Kabupaten Demak SSGI 16,2 persen dan SKI 9,5 persen.
Sementara Kabupaten Kudus, SSGI 19 persen dan SKI 15,7 persen, kemudian Kabupaten Pati, dengan SSGI 23 persen dan SKI 18,5 persen serta Kabupaten Blora, SSGI 25,8 persen dan SKI 19,5 persen, sementara Kabupaten Sragen SSGI 24,3 persen dan SKI 18,4 persen.
Dari hasil Prevalensi SSGI dan SKI terakhir, hasil capaian penurunan stunting di Kabupaten Grobogan menempati posisi peringkat 21 dari seluruh kabupaten/Kota se Provinsi Jawa Tengah.
Menanggapi hal itu, Kepala bidang Kesehatan Mayarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan Wahyu Tri Haryadi akan segera melakukan monitoring dan evaluasi untuk memperkuat intervensi penurunan stunting di Kabupaten Grobogan.
“Nantinya kita perkuat Intervensi nya lagi ke petugas gizi di seluruh Puskesmas, kita tidak mau adanya screening temuan gizi buruk di Kabupaten Grobogan,” ungkapnya, Jumat (9/8/2024).
Dikatakan Wahyu, dalam intervensi stunting Kabupaten Grobogan saat ini terdapat Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar 6 miliar yang masuk didalam Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) di 30 Puskesmas yang ada di Kabupaten Grobogan.
“Rata- rata di Puskesmas sudah memiliki anggaran BOK Rp 200 juta dari DAK untuk kegiatan intervensi untuk Ibu hamil Kekurangan energi kronis (KEK) ataupun resiko KEK,” ucapnya.

Ditambahkan Wahyu, selain DAK tersebut, nantinya untuk mengatasi masalah stunting di Grobogan di tahun 2024 ini, Dinas Kesehatan juga mendapatkan alokasi dana bantuan keuangan (Bankeu) dari APBD Provinsi Jateng.
“Kita juga dibantu Bankeu APBD Provinsi Jateng sebesar Rp 3,9 miliar,” imbuhnya.
Dikatakannya, dari data yang ia terima saat ini, selain permasalahan stunting terdapat juga tingginya angka kematian balita dan kematian ibu saat melahirkan.
“Selain stunting tinggi, dan permasalah gizi balita, saat ini tercatat ada 12 ibu meninggal per hari ini,” ungkapnya.
Akan hal itu, pihaknya berharap kepada seluruh stakeholder dapat bersama-sama dalam upaya peningkatan capaian intervensi serentak pencegahan stunting di wilayah Kabupaten Grobogan. (Masrikin).
