DPR RI Komisi X BBGP Jatim Gelar Sarasehan Pendidikan Penerapan Kurikulum Merdeka di Mojokerto

Avatar of Redaksi
Para Narasumber acada Sarasehan Pendidikan Implementasi Kurikulum Merdeka di Denbei Resto Mojokerto. (Alief Wahdana/kabarterdepan.com)
Para Narasumber acara Sarasehan Pendidikan Implementasi Kurikulum Merdeka di Denbei Resto Mojokerto. (Alief Wahdana/kabarterdepan.com)

Mojokerto, kabarterdepan.com – Anggota DPR RI Komisi X jalin kemitraan dengan Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan Sarasehan Pendidikan kupas mendalam Kurikulum Merdeka.

Acara ini mengundang guru segala jenjang pendidikan se-kabupaten Mojokerto yang berlangsung di Denbei Cafe and Resto Family Pungging, Mojokerto Sabtu (27/7/2024).

Dalam sambutannya, Kepala Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Abu Khaer menjelaskan bahwa BBGP mendapat amanah menyelenggarakan program prioritas nasional yaitu Pendidikan Guru Penggerak (PGP), Pendidikan Sekolah Penggerak (PSP), dan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) di wilayah Provinsi Jawa Timur.

Lebih lanjut Abu Khaer memaparkan bahwa BBGP Provinsi Jawa Timur juga mengembangkan kemitraan dengan pengampu kepentingan pendidikan di daerah-daerah dalam menyukseskan program IKM serta program peningkatan kompetensi guru, tenaga kependidikan.

“Bekerja sama dengan anggota DPR RI Komisi X sebagai wujud komitmen bersama dalam mendukung pelaksanaan kebijakan Kemendikbudristek, terutama seputar implementasi kurikulum merdeka,” imbuhnya.

Menurutnya, Program Guru Penggerak (PGP), Sekolah Penggerak (SP), dan SMK Pusat Keunggulan (PK) hadir untuk melatih guru dan kepala sekolah sehingga mereka dapat berperan sebagai narasumber praktik baik Kurikulum Merdeka.

Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi X Zainudin Maliki menjelaskan, ruh Kurikulum Merdeka berpusat pada peserta didik sehingga teori dan pendekatan yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran mestinya teori konstruktivisme bukan teori behaviorisme.

“Subtansi menjadi guru konstruktivis adalah guru yang membangun peserta didik mulai dari proses awal dengan memberikan kesempatan lebih banyak kepada peserta didik,” ucap sosok yang juga pernah menjabat sebagai Rektor UM Surabaya ini.

Narasumber bersama peserta Sarasehan Pendidikan
Narasumber bersama peserta Sarasehan Pendidikan. (Alief Wahdana/kabarterdepan.com)

Lebih lanjut, sosok yang juga pernah menjadi Ketua Dewan Pendidikan ini menjelaskan bahwa subtansi Kurikulum Merdeka memberikan kesempatan pada siswa saat pembelajaran, maka guru tidak diperkenankan mengambil alih dan menguasai tugas-tugas yang seharusnya dikerjakan siswa.

“Acara ini juga turut mengundang KH Asep Saifuddin Chalim karena beliau adalah ulama besar yang fokus pada kemajuan pendidikan, terbukti dengan lembaga pendidikan yang beliau rintis sekarang sudah menjadi salah satu lembaga pendidikan terbaik di Indonesia,” paparnya.

Dalam wawancaranya, KH Asep Saifuddin Chalim mengatakan bahwa lembaga pendidikan harus bisa memberikan output yang berkualitas, dengan seperti itu para wali murid akan mempercayakan putra-putrinya untuk menempuh pendidikan di lembaga tersebut.

“Apabila output lembaga pendidikan itu terbukti berkualitas, otomatis dalam proses pendidikannya sudah bisa dipastikan qualified,” ungkap Kiai Asep.

Menurut sosok putra pahlawan nasional KH Abdul Chalim, lembaga pendidikan yang ia naungi sekarang sudah menjadi lembaga pendidikan terbaik di Indonesia, satu angkatan tahun ini 40 lulusan MA Amanatul Ummah diterima di Fakultas Kedokteran kampus-kampus ternama, serta kurang lebih 400an lulusannya masuk Perguruan tinggi ternama lewat jalur SNBP/SNBT.

“Yang terpenting itu transfer keilmuan dari guru yang qualified terhadap siswa itu tuntas, dengan begitu kualitas lulusan akan unggul,” tutupnya. (Alief)

Responsive Images

You cannot copy content of this page