Pj Gubernur Jatim dan Wakil Ketua MPR RI Hadiri Peletakan Batu Pertama Peresmian Gedung Kampus Universitas KH Abdul Chalim di Mojokerto

Avatar of Redaksi
Pj Gubernur Jatim Adhy Karyono sesaat setelah meletakkan Batu Pertama Gedung Universitas KH. Abdul Chalim Pacet Mojokerto. (Alief Wahana/kabarterdepan.com)
Pj Gubernur Jatim Adhy Karyono sesaat setelah meletakkan Batu Pertama Gedung Universitas KH Abdul Chalim Pacet Mojokerto. (Alief Wahdana/kabarterdepan.com)

Mojokerto, kabarterdepan.com – Acara Peletakan batu pertama pembangunan gedung auditorium, gedung perkuliahan dan asrama putri Universitas KH. Abdul Chalim Bendungan Jati Pacet Mojokerto pada Sabtu (20/7/2024) dihadiri Pj Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono.

Pj Gubernur Jatim Adhy Karyono mengatakan dengan dibangunnya gedung baru kampus tentunya merefleksikan semangat dan tekad kuat kebermanfaatan kampus Universitas KH. Abdul Chalim. Menurutnya manfaat itu tidak hanya untuk masyarakat Jawa Timur yang akan menikmati beasiswa, tetapi seluruh Indonesia, bahkan luar negeri juga dapat menempuh pendidikan di kampus ini jalur beasiswa dengan kualitas pendidikan internasional.

“Terkait kondisi perkembangan Jawa Timur saat ini, menurut data BPS 2024 ini pertumbuhan ekonomi pada angka 4,81 persen dan diprediksi pada akhir tahun ini bisa mencapai 5,2 persen,” paparnya.

Inflasi di Jatim, menurut Adhy Karyono dalam 6 bulan terakhir cukup stabil serta daya beli masyarakat meningkat mengacu pada pola perilaku ekonomi petani dan nelayan yang meningkat, untuk persentase penduduk miskin pada Maret 2024 sebesar 9,79 %, menurun 0,56 % poin terhadap Maret 2023.

“Dengan angka kemiskinan di bawah 10 % tersebut, Jawa Timur berkontribusi 30,4 % pada penurunan kemiskinan nasional,” jelasnya.

Masih kata Pj Gubernur Jatim, ini menunjukkan upaya strategi kebijakan selama 5 tahun terakhir yang berhasil, tak luput dari campur tangan Ibu Khofifah Indar Parawansa yang selama 3,5 tahun menangani Kementrian Sosial yang rekat erat hubungannya dengan masalah pengentasan kemiskinan.

“Strategi pertama adalah bagaimana meningkatkan kekuatan dari masyarakat miskin dengan memenuhi kebutuhan hidupnya, yang kedua adalah meningkatkan pendapatannya dan ketiga adalah bagaimana membuat rumahnya menjadi layak,” rincinya.

Setelah fokus terhadap Program Keluarga Harapan plus (PKH +), program disabilitas dan lansia, lanjut Adhy Karyono, pihaknya juga menjadikan APBN/APBD terfokus dipenambahan program pendikan yang dianggarkan 26,4%.

“Kita berikan di program Biaya Penunjang Operasional Penyelenggaraan Pendidikan (BPOPP) di SMA/SMK dan SLB hampir Rp 1,6 Triliyun yanh itu tidak ada di Provinsi lain,” ujarnya.

Menurutnya selama 5 tahun terakhir Ibu Khofifah dan Mas Emil bekerja fokus penyelesaian pada indikator-indikator pengentasan kemiskinan serta lebih banyak berkonsentrasi pada pemberdayaan ekonomi kemasyarakatan sehingga itu berdampak signifikan kepada penurunan angka kemiskinan, yang secara rata-rata nasional 0,2% akan tetapi Provinsi Jawa Timur berada di 0,56%, menurutnya strategi yang diterapkan terbukti sesuai dengan patron internasional yang berdasar pada Social Protection dan Social Investment.

“Hubungan dengan acara hari ini ada pada Social Investment, yakni masyarakat yang masih terjerat pada kemiskinan akan lepas apabila diberikan akses pendidikan tinggi pada salah satu anggota keluarganya agar dapat bersaing di Labor Market maupun Entrepreneurship,” pungkasnya.

Sementara itu Wakil Ketua MPR RI, Yandri Susanto mengapresiasi langkah KH Asep Saifuddin Chalim selaku pendiri Universitas Abdul Chalim. Menurutnya ini adalah wujud sumbangsih yang nyata melanjutkan perjuangan para pendahulunya para pahlawan nasional 3 serangkai pendiri NU yakni KH. Hasyim Asyari, KH, Wahab Chasbullah, KH. Abdul Chalim.

“Alhamdulillah Kiai Asep bisa melanjutkan perjuangan ayahnya KH Abdul Chalim sudah melahirkan ide-ide cerdas dan mengimplementasikan cita-cita pendahulunya,” ungkapnya.

Wakil Bupati Mojokerto dan juga Ketua Yayasan Amanatul Ummah yang menaungi Universitas KH Abdul Chalim, Muhammad Al Barra (Gus Barra) mengatakan meski dirinya tidak pernah berjumpa dan bertatap muka langsung dengan Kakeknya yakni KH. Abdul Chalim, akan tetapi semangat perjuangan dan pengabdian kepada umat tetap mengalir pada dirinya.

“Beliau (KH. Abdul Chalim) adalah sosok ulama pejuang pendiri NU yang luar biasa, sehingga kita abadikan sebagai nama Universitas ini, dengan harapan semangat pengabdian kepada umat selalu tercermin di kampus ini,” pungkasnya. (Alief)

Responsive Images

You cannot copy content of this page