
Semarang, Kabarterdepan.com – Amblesnya jalan di perumahan elit Permata Puri, Ngaliyan, Semarang mengakibatkan aliran air PDAM dan listrik mati. Petugas PLN dan PDAM kini berjibaku memperbaiki aliran listrik yang padam sejak Kamis (14/3/2024) malam sekitar pukul 22.00 WIB.
Informasi yang dihimpun, sejak Kamis (14/3/2024) siang sekitar pukul 13.00 WIB, tampak alat berat berupa 3 unit kren milik PLN berada di lokasi. Serta tiga mobil operasional PDAM juga diturunkan.
Manager PLN Semarang Barat, Egi Erdian mengatakan total terdapat ratusan pelanggan di 5 perumahan yang terdampak. Ia mentargetkan perbaikan listrik ini akan selesai sebelum Maghrib nanti.
“Sekitar 15 orang, tadi perbaikan mulai jam 09.00 WIB. Prediksinya kita selesaikan sebelum Maghrib ini. Kalau pelanggannya yang terdampak ada sekitar 5 perumahan termasuk Payon Amartha dan Aira,” ujarnya saat berada di lokasi, Jumat (15/3/2024).
Ketua RT 5 RW 08 Andi Arfianto menambahkan selain PDAM dan listrik, amblesnya jalan yang menyebabkan satu tiang roboh ini juga berdampak pada putusnya jaringan internet.
“Kemudian Indihome terdampak semua mati semua, kalau listrik yang mati 2-3 RW,” ujarnya.
Hujan deras yang mengguyur Semarang sejak Rabu malam (13/3/2024) menyebabkan jalan ambles berulang di Permata Puri.
“Ini sudah ke 4 kali ini, setahu saya. Tapi ga separah ini. Ini paling parah,” kata Bayu, salah satu warga Permata Puri RW 08.
Sementara itu, Andi Arfianto membenarkan amblesnya jalan ini sudah terjadi berulang. Bahkan yang terakhir pihak pengembang berupaya mengecor jalan, sayangnya tanpa memperbaiki konstruksi gorong-gorong di bawahnya.
“Dulu pernah kayak gini (ambles) terus diingatkan warga untuk buat akses baru jangan lewat sini. Terus dibuatkan jalannya dibeton, tapi tidak memperbaiki konstruksi bawahnya jadi tidak bertahan lama,” ujarnya.
Andi menceritakan sebetulnya jalan yang ambles tersebut dahulunya adalah jalan air atau aliran sungai. Namun, oleh pengembang diuruk dan dibuat gorong-gorong sebagai akses menuju perumahan lain yang dibangun.
“Di bawah adalah jalur aliran air jadi tergerus. Pastinya urugan tadinya aliran sungai terus dibikin gorong-gorong,” terangnya.
Diduga, konstruksi gorong-gorong itu tidak kuat, apalagi jalan ini digunakan untuk lalu lalang alat berat pembangunan apartemen.
“Mungkin karena tidak kuat pada beban alat berat truk, molen dan lain lain dengan volume besar jadi seperti ini.”katanya. (Ahmad)
