
Bojonegoro – Kebijakan pemasangan portal di Jembatan Terusan Bojonegoro–Blora (TBB) di Desa Luwihaji, Kecamatan Ngraho, menuai beragam tanggapan. Jika pemerintah menyebut langkah itu sebagai upaya menjaga keselamatan dan keawetan jalan kelas 3, sebagian masyarakat justru merasa dirugikan, terutama para sopir angkutan barang.
Di media sosial, kolom komentar warganet dipenuhi keluhan. Sejumlah sopir truk mengaku akses mereka menjadi terbatas, bahkan harus memutar lebih jauh untuk menghindari portal. Kondisi ini dinilai berdampak langsung pada biaya operasional.
“Kalau harus muter, solar nambah, waktu tempuh molor. Ongkos kirim bisa naik,” kata Wawan, salah satu sopir truck di kolom komentar.
Keluhan serupa juga datang dari pelaku usaha kecil yang bergantung pada distribusi barang melalui jalur itu. Mereka khawatir pembatasan kendaraan bermuatan besar akan menghambat suplai bahan baku maupun pengiriman hasil produksi.
“Kalau truk besar nggak bisa lewat, pengiriman jadi tidak lancar. Akhirnya yang kena imbas ya pedagang dan konsumen,” imbuh warganet lainnya, Marwan.
Beberapa komentar yang mempertanyakan konsistensi penegakan aturan Over Dimension Over Load (ODOL). Mereka menilai, pembatasan melalui portal seharusnya dibarengi dengan solusi alternatif, seperti penyediaan jalur khusus atau peningkatan kapasitas jalan.
“Kalau memang kelas 3, kenapa sejak dulu dibiarkan truk besar lewat? Sekarang tiba-tiba dipasang portal, sopir yang disalahkan,” tulis akun lainnya.
Portal Diperuntukkan Kendaraan yang Sesuai Jelas Jalan
Di sisi lain, ada pula warga yang mendukung langkah tersebut demi keselamatan dan keawetan jembatan. Namun mereka meminta pemerintah membuka ruang dialog agar kebijakan tidak merugikan kelompok tertentu.
Sejumlah sopir berharap ada sosialisasi lebih intens dan kebijakan transisi, termasuk kejelasan batas tonase serta pengawasan yang adil di lapangan. Mereka juga meminta pemerintah daerah memikirkan dampak ekonomi yang timbul.
Menanggapi hal itu, Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono hanya merespon pendek.
“Yang bisa lewat harus menyesuaikan kekuatan jembatan dan kelas jalan,”pungkasnya.
