Belajar di Bawah Ancaman Longsor, Siswa SD di Pasaman Bertahan di Tenda Darurat

Avatar of Jurnalis: Ahmad
Salah satu perhatian Pemkab Pasaman. (Fajar/kabar terdepan)
Salah satu perhatian Pemkab Pasaman. (Fajar/kabar terdepan)

Pasaman, Kabarterdepan.com – Di lereng bukit yang masih menyisakan bekas tanah bergerak, puluhan siswa SD Negeri 12 Koto Kaciak, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, menjalani hari-hari belajar di bawah tenda darurat. Kain terpal yang menjadi dinding kelas sementara itu tak sepenuhnya mampu menahan panas siang maupun dingin saat hujan turun.

Dari balik tenda, suara anak-anak melantunkan pelajaran bercampur tawa riang. Seolah lupa sekolah mereka baru saja terdampak longsor, semangat belajar para siswa tak surut. Padahal, ancaman bencana susulan masih membayangi. Gedung sekolah terpaksa ditinggalkan karena dinilai tidak lagi aman, sementara retakan tanah di sekitarnya berpotensi membahayakan keselamatan.

Demi menghindari risiko lebih besar, aktivitas belajar mengajar dipindahkan ke tenda darurat. Kondisi itu menjadi keseharian baru para siswa, belajar dalam keterbatasan, namun tetap bertahan.

Perhatian Pemkab Pasaman

Situasi tersebut mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten (pemkab) Pasaman. Bupati Pasaman Welly Suhery bersama jajaran pemerintah daerah meninjau langsung lokasi pada Senin (19/1). Kunjungan itu bukan sekadar seremonial. Pemerintah daerah menyerahkan bantuan paket perlengkapan sekolah serta dua unit tenda belajar tambahan yang langsung digunakan pihak sekolah.

Suasana haru mewarnai kunjungan tersebut. Welly menyapa satu per satu siswa yang duduk di tenda. Anak-anak menyambut hangat, bersalaman, bahkan memeluk sang bupati.

“Kepada anak-anakku sekalian, tetaplah semangat belajar. Keterbatasan tidak boleh menghalangi cita-cita kita semua. Mari tetap belajar menuntut ilmu,” ujar Welly di hadapan para siswa.

Ia menegaskan kehadiran pemkab Pasaman di lokasi bencana merupakan bentuk tanggung jawab negara untuk memastikan hak pendidikan anak tetap terpenuhi, meski dalam kondisi darurat.

“Kehadiran kami di sini adalah komitmen pemerintah daerah agar proses pendidikan tetap berjalan, apa pun kondisinya,” katanya.

Di hadapan kepala sekolah, para guru, Kepala Dinas Pendidikan, perangkat nagari, serta rombongan yang mendampingi, Welly mengakui langkah yang diambil saat ini masih bersifat darurat. Namun, kebutuhan pendidikan siswa tetap menjadi prioritas.

“Ini solusi sementara. Sambil berjalan, kami menunggu kajian teknis lanjutan dan rencana relokasi sekolah yang saat ini sedang diproses dalam dokumen rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana,” jelasnya.

Salah seorang siswa mengaku senang atas kedatangan bupati. Meski belajar di tenda, ia dan teman-temannya memilih bertahan.

“Kalau siang panas, kalau hujan kadang takut. Tapi kami tetap mau belajar,” ujarnya polos sambil tersenyum.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pasaman Muslim memastikan komitmen penuh pemerintah daerah dalam pemulihan pendidikan pascabencana.

“Prioritas kami adalah keselamatan dan keberlanjutan pendidikan. Dua tenda belajar dan perlengkapan sekolah ini langkah awal untuk memastikan Standar Pelayanan Minimal pendidikan tetap berjalan,” katanya.

Menurut Muslim, proses relokasi permanen sekolah telah dimulai. Namun, diperlukan anggaran besar dan kajian mendalam agar lokasi baru benar-benar aman dan berkelanjutan.

Di bawah tenda darurat, di tengah ancaman longsor dan fasilitas terbatas, anak-anak SD Negeri 12 Koto Kaciak tetap menatap masa depan. Negara dituntut hadir, bukan hanya hari ini, tetapi hingga mereka kembali belajar di sekolah yang aman dan layak. (FajarPR)

Responsive Images

You cannot copy content of this page