
Jombang, kabarterdepan.com – Angka pengangguran di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, sepanjang tahun 2025 masih tergolong tinggi. Data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Jombang mencatat sebanyak 25.686 warga hingga kini belum memiliki pekerjaan.
Pengangguran tidak hanya didominasi lulusan sekolah menengah, tetapi juga lulusan perguruan tinggi yang seharusnya lebih siap bersaing di pasar kerja.
Dari total tersebut, 8.843 orang merupakan lulusan SMK, 8.610 lulusan SMA, 2.560 lulusan SMP, dan 4.508 lulusan SD. Sementara itu, 1.165 lulusan perguruan tinggi tercatat masih menganggur.
Disnaker Jombang Soroti Ketidaksesuaian Kompetensi Lulusan
Kepala Disnaker Isawan Nanang Risdiyanto, menyebut ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja menjadi faktor utama tingginya angka pengangguran, khususnya pada level sarjana.
“Struktur kebutuhan industri belum sepenuhnya mampu menampung seluruh latar belakang keilmuan lulusan perguruan tinggi,” ujarnya, Minggu (18/1/2026).
Ia mencontohkan, lulusan dengan bidang keilmuan tertentu seperti filsafat relatif sulit terserap karena minimnya industri yang relevan di Jombang.
Oleh karena itu, Isawan menekankan agar lulusan perguruan tinggi tidak terpaku pada pasar kerja lokal.
“Sarjana harus berani keluar dari Jombang dan bersaing di tingkat regional maupun nasional,” tegasnya.
Menurut Isawan, banyak perusahaan lebih memilih merekrut tenaga kerja dari jenjang dasar yang kemudian dibina sesuai kebutuhan perusahaan. Bahkan, dalam beberapa kasus, lulusan sarjana yang melamar berasal dari internal perusahaan sendiri.
“Misalnya sarjana manajemen, yang mendaftar bukan hanya dari luar, tetapi juga dari internal perusahaan. Biasanya yang internal lebih kompetitif karena sudah memahami kapasitas dan kebutuhan perusahaan,” jelasnya.
Meski demikian, Disnaker menegaskan bahwa kompetensi lulusan tetap sangat dibutuhkan. Pemerintah daerah pun terus mendorong para pencari kerja untuk meningkatkan keterampilan melalui berbagai program pelatihan.
Upaya menekan angka pengangguran dilakukan melalui pelatihan kerja, peningkatan kompetensi, serta penguatan link and match antara dunia pendidikan dan dunia industri. Bahkan, tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang bersedia mengikuti pelatihan teknis.
“Banyak sarjana yang mengikuti pelatihan menjahit sepatu yang kami adakan. Ini menunjukkan mereka mau beradaptasi dengan kebutuhan pasar kerja,” pungkas Isawan. (Karimatul Maslahah)
