Hujan Deras Picu Banjir, Petani Jombang Kembali Dihantui Gagal Panen

Avatar of Redaksi
hujan
Area persawahan di Desa Gedongombo, Ploso Jombang terendam banjir. (Istimewa)

Jombang, kabarterdepan.com – Intensitas hujan tinggi yang mengguyur sejumlah wilayah di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dalam beberapa hari terakhir menyebabkan ratusan hektare sawah terendam banjir. Kondisi ini memicu kekhawatiran petani akan ancaman gagal panen, khususnya di Kecamatan Ploso.

Luapan Kali Marmoyo menggenangi lahan pertanian di Desa Gedongombo, Kecamatan Ploso, sehingga aktivitas pertanian terganggu. Genangan air dilaporkan telah berlangsung selama beberapa hari dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda surut.

Ancaman Gagal Panen Tanaman Padi Akibat Hujan Deras

Banjir tersebut dinilai berisiko tinggi merusak tanaman padi yang rata-rata masih berusia sekitar satu bulan. Petani khawatir, apabila genangan air bertahan lebih dari tujuh hari, tanaman padi berpotensi mati dan berujung gagal panen.

Seorang petani setempat, Andi (38), mengaku mengalami kerugian akibat banjir yang tak kunjung surut.

“Sampai sekarang belum surut. Ya sudah pasti banyak yang merugi,” ujarnya, Rabu (14/1/2026).

Kekhawatiran petani semakin meningkat karena sebagian besar dari mereka sebelumnya telah melakukan tanam ulang akibat banjir pada musim hujan sebelumnya.

“Di sini sudah langganan banjir. Kalau hujan deras, ancaman gagal panen itu nyata. Sebelumnya sudah kena banjir, sudah tanam ulang, sekarang banjir lagi,” kata Andi.

WhatsApp Image 2026 01 14 at 11.35.55 AM 1

Sementara itu, Kepala Desa Gedongombo, Lasiman, menyebutkan sedikitnya 100 hektare sawah terdampak banjir akibat luapan Kali Marmoyo.

Lahan pertanian tersebut tersebar di lima dusun, yakni Dusun Balong, Gedong, Kalianyar, Sukoanyar, dan Kalimati, yang seluruhnya telah ditanami padi.

Menurut Lasiman, banjir akibat luapan Kali Marmoyo merupakan persoalan klasik yang hampir selalu terjadi setiap musim hujan.

Ia berharap ada penanganan serius dari pemerintah, terutama melalui normalisasi sungai, guna meminimalkan dampak banjir yang berulang.

“Harapannya segera ada tindak lanjut normalisasi sungai supaya saat hujan deras genangan cepat surut. Dampaknya bukan hanya ke lahan pertanian, tapi juga ke permukiman warga,” pungkasnya. (Karimatul Maslahah)

Responsive Images

You cannot copy content of this page