
Jombang, Kabarterdepan.com – Menjelang akhir tahun 2025 sekaligus memasuki masa Natal dan Tahun Baru (Nataru), “kepedasan” bukan hanya terasa di dapur, tapi juga di kantong warga Jombang, Jawa Timur.
Harga cabai di Pasar Pon kembali membara.
Harga Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu per Kilogram
Cabai rawit yang semula berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram kini melesat tajam hingga menyentuh Rp100 ribu untuk kualitas super.
Kenaikan ekstrem ini mulai dirasakan dalam dua pekan terakhir. Hari, salah satu pedagang setempat, mengaku kenaikan harga terjadi sangat cepat dan membuat pasar ikut panas.
“Harga tertinggi cabai rawit hari ini Rp100 ribu per kilogram untuk yang super. Kalau yang kualitas biasa Rp90 ribu, sedangkan cabai petek atau yang rusak cuma Rp30 ribu,” jelasnya, pada Senin (8/12/205).
Hari menduga cuaca ekstrem menjadi biang keladi naiknya harga cabai. “Kemarin udara panas, tapi tiba-tiba hujan. Banyak tanaman yang rusak,” ujarnya.
Kondisi tersebut tidak hanya memukul konsumen, tetapi juga para pedagang. Omzet Hari terjun bebas hampir 50 persen. “Biasanya sehari bisa jual 60 kilo, sekarang cuma 30 kilo,” akunya.

Cabai Merah Ikut Naik, Pembeli Mengeluh
Tak cuma cabai rawit, cabai merah pun ikut naik meski tak sepedas cabai rawit. Harganya kini berada di angka Rp45 ribu per kilogram, dari harga normal Rp35 ribu.
Di sisi lain, pembeli pun semakin dibuat gelisah dengan lonjakan harga ini. Umrotin, salah satu warga yang berbelanja di Pasar Pon, mengaku kebingungan dengan situasi tersebut.
“Itu yang terlalu meloncat, cabai. Terus naik. Meresahkan gara-gara MBG,” ucapnya.
Ia juga berharap pemerintah hadir untuk menekan gejolak harga bahan dapur.
“Kedepannya semoga menurun. Kasihan keluarga miskin. Biasanya saya beli dua kilo, sekarang terpaksa cuma satu kilo,” harapnya.
Lonjakan harga cabai diprediksi masih dapat berlanjut apabila cuaca ekstrem tak kunjung mereda dan pasokan dari petani tetap terbatas. Warga pun harus bersiap menghadapi “pedasnya” harga cabai jelang pergantian tahun. (Karimatul Maslahah)
