
Jombang, Kabarterdepan.com – Davit Hidayah Tullah, bocah 10 tahun asal Dusun Cangkring, Desa Cangkringngrandu, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, harus hidup dengan kondisi lumpuh sejak bayi.
Ia tidak mampu berjalan dan hanya berbaring di kasur setiap harinya. Sang ibu, Ismiati (52), terus berupaya mencari pengobatan untuk mengatasi kelumpuhan, namun hingga kini belum ada perkembangan berarti.
“Pertama itu sakit kuning selama lima hari. Terus saya bawa ke Rumah Sakit Muslimat. Sampai sekarang umurnya 10 tahun masih belum bisa berjalan sama sekali,” ungkap Ismiati saat ditemui di rumahnya, Rabu (3/12/2025).
Berbagai Pengobatan Lumpuh Tak Membawa Perubahan
Berbagai metode terapi telah dicoba, mulai dari fisioterapi, pijat saraf, hingga totok saraf. Namun usaha tersebut tak menunjukkan hasil.
“Hasilnya tidak ada, tidak ada perubahan. Sekarang dia hanya bisa berbaring di kasur, lihat TV, tapi TV-nya pun sekarang rusak,” lanjutnya.
Lebih memprihatinkan, keluarga ini tidak pernah menerima bantuan sosial rutin seperti PKH atau sembako. Bantuan yang pernah diterima hanya BLT sebesar Rp900 ribu dan bantuan COVID-19 sebanyak tiga kali dengan total Rp300 ribu.
“Yang rutin tidak ada. PKH juga tidak pernah. Saya juga tidak pernah tanya ke perangkat desa,” ujar Ismiati.
Ismiati kini tidak bekerja karena harus merawat Davit sepanjang waktu. Suaminya, yang dahulu menjadi tulang punggung keluarga, telah meninggal dunia dan baru memasuki masa 100 hari wafat.
Untuk kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan anaknya yang bekerja sebagai live streamer TikTok dan penjual pakaian bayi.
Kondisi semakin sulit karena keluarga ini tidak memiliki BPJS Kesehatan.
“Kalau berobat ya bayar sendiri. Sekarang saya sudah tidak membawa dia berobat lagi karena dulu berharap dia bisa berjalan, tapi tidak ada perubahan,” ucapnya.

Harapan Sederhana: Bantuan Kursi Roda
Meski demikian, Ismiati tidak menuntut banyak. Ia hanya berharap ada bantuan fasilitas untuk memudahkan aktivitas putranya.
“Ya maunya anak saya dapat bantuan kursi roda atau apa, saya terima saja,” katanya.
Davit sehari-hari hanya bisa berbaring dengan bantuan penuh dari sang ibu, mulai dari makan, minum, hingga berpindah posisi.
Dari pantauan di lokasi, Davit masih mampu merespons pembicaraan dengan cukup baik, namun kondisi fisiknya sangat lemah. Otot dan sarafnya tidak berfungsi normal, tampak dari kedua kaki dan tangan yang kurus kering.
Sementara itu, Kasi Kesra Desa Cangkringngrandu, Ewilda Bahtiar, membenarkan bahwa keluarga Ismiati belum pernah menerima bantuan sosial rutin. Berdasarkan data desa, keluarga tersebut masuk desil 2, yang menunjukkan kategori ekonomi bawah.
“Belum ada PKH, belum ada sembako. Tapi baru-baru ini dapat BLT Kesra dari pemerintah pusat yang Rp900 ribu itu. Desilnya sebelumnya 3, sekarang turun ke desil 2,” jelas Ewilda.
Ia menambahkan, penentuan penerima bantuan merupakan kewenangan Kementerian Sosial (Kemensos) dan BPS, sementara desa bertugas mengusulkan data.
“Kalau mau dapat PKH atau bantuan lain, bisa mengajukan lewat aplikasi Cek Bansos atau langsung ke desa membawa Kartu Keluarga. Maksimal pengajuan tanggal 10 Desember karena tanggal 12 harus di-upload ke sistem,” terangnya. (Karimatul Maslahah)
