Canting Bahari Majapahit Semarakkan Fashion Batik Competition Mojo Batik Festival 2025 di Kota Mojokerto

Avatar of Redaksi
Fashion Batik Competition
Fashion Batik Competition Mojo Batik Festival 2025. (Ezra/Kabarterdepan.com)

Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com – Mojo Batik Festival 2025 kembali digelar di Taman Bahari Majapahit, Kota Mojokerto, Kamis (20/11/2025), dengan mengusung tema “Canting Bahari Majapahit” pada ajang Fashion Batik Competition.

Gelaran tahunan yang diinisiasi Pemerintah Kota Mojokerto melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) tersebut langsung mencuri perhatian pengunjung sejak dibuka.

Fashion Batik Competition Tampilkan Karya Desainer Lokal hingga Nasional

Fashion Batik Competition Mojo Batik Festival 2025 menghadirkan rangkaian peragaan busana yang menonjolkan kekayaan batik khas Mojokerto. Festival tahunan tersebut diselenggarakan selama empat hari dan menampilkan karya desainer lokal maupun nasional yang memperkaya keragaman motif batik daerah.

Kompetisi fashion batik ini terbagi dalam beberapa kategori. Terdapat kategori Casual Anak, Casual Dewasa, Glamor Dewasa, dan kategori Festival yang menampilkan kreativitas peserta melalui rancangan busana yang lebih artistik dan berkarakter.

Lyna Desriana Arisandi, S.Pd, juri fashion designer dari Rasuan Lampahan, mengapresiasi tingginya antusiasme peserta. Ia menilai kegiatan ini menjadi ruang penting untuk melestarikan kebudayaan lokal.

“Secara antusias melihat peserta sangat banyak sekali. Dengan acara ini semakin memperkenalkan batik, khususnya batik Kota Mojokerto sebagai produk lokal, karena generasi muda sekarang harus mengenal tradisi tradisi dan budaya budaya,” ujarnya.

Lyna berharap festival ini juga mampu memperkuat sinergi antar pelaku UMKM di Kota Mojokerto. Para pengrajin seperti pembuat sepatu, jas, dan produk kriya lainnya diharapkan ikut merasakan manfaat dari tingginya eksposur acara.

Untuk segi penilaian, juri menilai kesesuaian busana dengan tema Canting Bahari Majapahit. Penilaian mencakup persentase penggunaan batik, dominasi motif, serta perpaduan bahan tambahan yang digunakan dalam rancangan para peserta.

“Penilaian ini sesuai dengan tema batik, berapa persen batik yang dipakai, lebih banyak batiknya atau masih banyak bahan tambahannya atau variasi,” ujar Safroji Tuassikal, S.I.Kom selaku salah satu juri.

Acara yang penuh warna ini tidak hanya menonjolkan estetika batik, tetapi juga memperluas sudut pandang generasi muda terhadap kekayaan budaya Mojokerto. Melalui kompetisi ini, batik kembali hadir sebagai simbol kreativitas dan identitas daerah yang patut dibanggakan. (Ezra)

Responsive Images

You cannot copy content of this page