
Kabupaten Mojokerto, Kabarterdepan.com – Cabai Caroline Reaper dari Mojokerto menarik perhatian pecinta pedas. Tanaman yang dikenal sebagai cabai terpedas di dunia ini kini dibudidayakan oleh seorang petani di Desa Tepuran, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto. Budidaya ini berkembang pesat dan memberikan nilai ekonomi yang menjanjikan.
Yani Suharto, petani setempat, telah mengembangkan budidaya cabai Caroline Reaper selama beberapa tahun. Ia tidak hanya menanam cabai saja, tetapi juga mengembangkan beberapa jenis sayuran lain di lahan miliknya.
“Saya sudah empat tahun budidaya cabai Caroline ini. Awalnya saya mencari ide usaha yang unik, lalu tercetuslah budidaya cabai Caroline,” ujar Yani saat diwawancarai
Menurutnya, setiap pohon dapat menghasilkan rata-rata tujuh ons atau sekitar seratus buah cabai Caroline setiap masa panen. Harga jualnya pun bervariasi antara cabai basah dan cabai kering.
“Kalau cabai basah harganya delapan ratus ribu rupiah per kilogram. Kalau kering karena melalui proses oven, bisa mencapai tiga per empat juta rupiah per kilogram,” jelasnya.
Selain bercocok tanam, Yani juga mengembangkan usaha olahan makanan berbahan cabai Caroline Reaper. Produk mie pedas menjadi salah satu menu yang banyak diminati oleh pelanggan karena cita rasa khas cabai tersebut.
Varian Cabai Caroline Reaper
Dalam proses budidaya, Yani menanam empat varian cabai Caroline, yaitu merah, kuning, putih, dan cokelat. Keempatnya memiliki tingkat kepedasan yang hampir sama dan berbeda jauh dari cabai rawit lokal.
Dibantu lima karyawan di kebun, Yani menerapkan sistem budidaya organik di dalam rumah tanam. Ia juga menggunakan teknologi pot otomatis yang dirancang untuk mempermudah proses pemeliharaan tanaman di lahan tersebut.
“Teknologi ini membuat aktivitas berkebun lebih mudah karena tidak perlu menyiram tanaman secara manual,” kata Yani menjelaskan keunggulan perangkat tersebut.
Setiap bibit cabai ditanam dalam pot berdiameter empat puluh sentimeter. Media tanamnya dibuat dari campuran tanah gembur dan sekam bakar. Dua pot kemudian diletakkan di atas sebuah matras yang secara otomatis akan menerima suplai air nutrisi setinggi tiga sentimeter dari tandon ketika pot mulai mengering.
Air nutrisi itu meresap dengan sendirinya ke media tanam melalui bagian bawah pot yang telah dilubangi. Cara ini menjaga kelembapan tanah tetap stabil tanpa membuat akar tanaman mudah membusuk akibat kelebihan air.
“Kalau mengatasi jamur kami memakai alat semprot khusus, hanya menggunakan air tanpa pestisida,” ungkapnya mengenai perawatan tanaman.
Biaya perawatan tanaman tergolong tinggi karena bibit dan kebutuhan pemeliharaan membutuhkan perlakuan khusus. Meski demikian, nilai jual yang tinggi membuat usaha ini tetap memberikan keuntungan yang sepadan.
Untuk pemasaran, Yani telah memiliki jaringan distribusi yang tersebar di beberapa kota besar. Pemesanan cabai maupun produk olahan dapat dikirim melalui berbagai jalur penjualan yang sudah ia bangun.
“Dari Batam, Jakarta sampai Surabaya sudah menjadi tujuan pemasaran kami,” tuturnya.
Budidaya cabai Caroline Reaper yang dijalankan Yani kini menjadi inspirasi bagi petani lain untuk mulai mengembangkan tanaman unik bernilai jual tinggi di wilayah Kabupaten Mojokerto. (Innka)
