
Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com – Cafe Lawu 33 Mojokerto hadirkan ruang kerja khusus disabilitas, sebuah terobosan yang menjadi inspirasi baru bagi dunia kuliner dan pemberdayaan masyarakat. Kafe yang muncul dari sebuah gang di Kota Mojokerto ini langsung menarik perhatian karena memberi kesempatan magang dan bekerja bagi kaum disabilitas.
Kafe tersebut berlokasi di Jalan Lawu Gang 3 Nomor 3 Perumahan Magersari Indah dan beroperasi setiap hari dari pukul delapan pagi hingga sembilan malam. Konsep yang diusung tidak hanya menghadirkan tempat bersantai, tetapi juga ruang yang memberikan rasa nyaman layaknya rumah.
“Cafe ini berdiri 17 November 2025, konsep ini hadir karena kafe di luar sana berjamur dan pasti memiliki sisi tersembunyi. Kami ingin orang yang datang ke sini merasakan rumah dan ketenangan,” ujar Ferry Gunawan selaku pemilik Cafe Lawu.
Strategi pemasaran yang diterapkan tidak jauh dari usaha kuliner pada umumnya. Kafe ini memanfaatkan berbagai media sosial untuk menarik pengunjung dan membangun komunitas.
“Untuk Cafe Lawu seperti kafe pada umumnya melalui media sosial Instagram, WhatsApp, dan media lain,” ujar Ferry.
Cafe Lawu 33 Mojokerto Berdayakan Kaum Difabel

Hingga kini, belum ada rencana untuk membuka cabang baru. Fokus utama masih pada proses pendampingan dan pelatihan bagi para pekerja disabilitas agar mereka siap memasuki dunia kerja secara lebih luas.
“Karna memang konsepnya anak anak yang disabilitas akan didik dan mereka akan siap di dunia kerja. Jika memungkinkan, mereka akan kami ajak untuk bergabung bersama dan bekerja sama,” ujar Ferry.
Inovasi yang dikembangkan oleh Cafe Lawu 33 Mojokerto terus berkembang. Rencana kegiatan untuk melibatkan para pekerja disabilitas juga mulai dipersiapkan agar kemampuan mereka semakin terlihat dan diapresiasi.
“Pasti, salah satu yang akan kita buat dalam waktu dekat adalah mengajak mereka untuk berlomba. Banyak sekali yang mendukung dan kami akan melombakan mereka, termasuk makanan, minuman, dan menghadirkan para orang tua,” ujar Ferry.
Ferry juga berbagi kisah awal terbentuknya ide ini. Pengalamannya sebagai pendidik membuka jalur pemikiran baru tentang pemberdayaan anak difabel dalam dunia usaha.
“Ceritanya saya juga pendidik di dunia sekolah sekitar sepuluh sampai lima belas tahun. Kebetulan saya punya tantangan mengajar anak difabel di Letkol Sumarjo. Saya mengajar gratis lima puluh orang dan semuanya senang. Dari situ orang tua saya undang dan mulai tercetuslah ide pelatihan dan dunia usaha,” ujar Ferry.
Tantangan dalam menjalankan usaha ini tidak mudah, terutama dalam hal komunikasi dan standar penyajian makanan. Namun, pendampingan yang konsisten menjadi kunci agar proses berjalan dengan baik.
“Tantangan di dalam usaha ini adalah standarisasi makanan dan keterbatasan komunikasi. Perlahan semuanya bisa diatasi, mereka hanya tinggal membaca,” ujar Ferry.
Cafe Lawu kini menjadi ruang yang ramah untuk berbagai kegiatan, mulai dari acara keluarga, pertemuan komunitas, hingga tempat nongkrong santai yang menawarkan suasana hangat dan inklusif. (Innka)
