
Jombang, Kabarterdepan.com – Fakta baru terungkap dari hasil autopsi jenazah Tri Retno Jumilah (60), warga Dusun Pandean, Desa Miagan, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yang ditemukan meninggal membusuk di dalam rumahnya.
Kasatreskrim Polres Jombang, AKP Dimas Robin Alexander, mengatakan tim forensik memastikan hasil autopsi menunjukkan luka-luka yang tidak mungkin terjadi secara alami.
Hasil Autopsi Lansia di Jombang
“Dari hasil autopsi sementara, ditemukan banyak luka memar di wajah, kepala, punggung tangan kanan-kiri, serta dada kiri. Semua akibat kekerasan tumpul,” ungkapnya, Jumat (14/11/2025).
Lebih jauh, hasil autopsi juga menemukan sejumlah patah tulang parah pada bagian tulang rahang bawah kanan, tulang pipi kanan, lengan atas kanan dan beberapa tulang iga kanan. Selain itu, kondisi bagian kepala korban mengindikasikan serangan keras berkali-kali.
“Terdapat resapan darah di kulit kepala bagian dalam, gumpalan darah, serta resapan darah pada tulang atap tengkorak. Ini semua akibat benturan keras,” jelas AKP Dimas.
Menurut Dimas, Tim medis juga menemukan otak korban dalam kondisi membubur dengan warna merah akibat perdarahan hebat, menandakan trauma berat pada area kepala.
Organ-organ dalam korban telah mengalami pembusukan lanjut. Namun, dari hasil autopsi memastikan bahwa kematian terjadi sebelum proses pembusukan dimulai, artinya korban tewas jauh lebih lama sebelum jenazah ditemukan.
“Perkiraan sementara, korban sudah meninggal lebih dari empat hari,” kata AKP Dimas.
Untuk diketahui, korban meninggal secara tidak wajar yang ditemukan bermula dari kecurigaan anak dan tetangga korban yang tidak melihat korban sejak Senin lalu.
“Lampu rumahnya terus menyala dan tidak terlihat aktivitas apa pun. Selain itu, buah yang ditaruh anaknya sejak empat hari lalu masih tergantung di pintu depan,” terang Anasrulloh, Ketua RT Setempat.
Sang anak sebelumnya sempat berkunjung ke rumah korban, namun karena rumah dalam keadaan terkunci, ia hanya meletakkan buah di gantungan pintu.
“Sampai hari ini buah itu belum diambil, dari situ warga mulai curiga,” lanjutnya.
Kecurigaan makin kuat setelah salah satu warga melongok dari jendela dan melihat banyak lalat di dalam rumah. Mereka kemudian menghubungi anak korban yang tinggal di desa lain untuk memastikan kondisi ibunya.
“Anaknya datang dan berusaha masuk lewat atap karena pintu terkunci dari dalam. Setelah berhasil masuk, ia menemukan ibunya sudah meninggal dunia. Lalu melapor ke perangkat desa dan polisi,” jelasnya.
Saat ditemukan, jasad Tri Retno sudah dalam kondisi membusuk di atas kasur lantai, dalam posisi telungkup dan tertutup selimut serta bantal.
“Kondisinya sudah menghitam dan dipenuhi belatung,” tambah Anas.
Diketahui, korban tinggal bersama suami sambungnya. Namun saat kejadian, suaminya tidak berada di rumah.
“Suaminya tidak ada, belum diketahui ke mana perginya,” pungkas Anas. (Karimatul)
