Workshop Jus Buah Probiotik di Mojokerto Bocorkan Cara Sehat Tanpa Pengawet, Wajib Coba!

Avatar of Redaksi

 

1000087032 scaled
Workshop Pembuatan Jus Probiotik Mojokerto Dihadiri oleh Hj Shofi ya Hana Al Barra, Rabu (12/2/2025) (Tantri / Kabarterdepan.com)

Mojokerto, Kabarterdepan.com – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Mojokerto menggelar Workshop Literasi Pembuatan Jus Buah Probiotik yang berlangsung di Gedung Literasi Sooko pada Rabu, 12 Februari 2025.

Kegiatan ini dirancang untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga, mengenai cara membuat jus buah probiotik yang awet dan tahan lama tanpa menggunakan bahan pengawet kimia.

Workshop yang dimulai pada pukul 08.30 WIB ini menarik perhatian puluhan peserta yang sangat antusias untuk mempelajari teknik fermentasi buah.

Selain mendapatkan teori tentang proses pembuatan jus probiotik, peserta juga diberi kesempatan untuk langsung terlibat dalam praktik pembuatan jus, yang menggunakan bahan-bahan alami dan teknik fermentasi untuk menghasilkan minuman sehat yang bermanfaat bagi kesehatan pencernaan.

Instruktur dalam workshop ini menjelaskan bahwa jus buah probiotik dibuat melalui proses fermentasi alami yang tidak melibatkan bahan kimia.

IMG 20250216 WA0005
Peserta Workshop Pembuatan Jus Probiotik Mulai Praktik Secara Langsung Setelah Diberikan Arahan oleh Pemateri, Rabu (12/2/2025) (Tantri / Kabarterdepan.com)

Proses fermentasi ini bertujuan untuk merangsang pertumbuhan bakteri baik yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan mikrobiota usus.

Bakteri baik ini memiliki peran utama dalam meningkatkan fungsi sistem pencernaan dan memperkuat daya tahan tubuh.

Proses fermentasi memungkinkan jus buah probiotik memiliki khasiat kesehatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan jus buah biasa.

Selain itu, para peserta juga diberikan informasi mengenai cara penyimpanan yang benar agar jus probiotik tetap aman dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama dan tidak mudah rusak. Beberapa poin penting yang disampaikan dalam sesi edukasi antara lain sebagai berikut :

  1. Jus buah probiotik yang belum dicampur dengan air, gula, atau madu tidak memiliki batas kedaluwarsa selama tidak ada tanda-tanda kontaminasi, seperti munculnya jamur hitam yang menandakan bahwa jus tersebut sudah tercemar. Jika jamur ini muncul, jus tersebut tidak boleh lagi dikonsumsi.
  2. Setelah jus dicampurkan dengan air, masa kedaluwarsanya menjadi lebih singkat, yaitu hanya tiga hari. Setelah itu, kualitas jus dan kandungan probiotiknya akan menurun secara signifikan.

Selama berlangsungnya workshop, para peserta tampak sangat aktif dalam bertanya dan berdiskusi dengan instruktur.

IMG 20250216 WA0006
Bedah Sesi Tanya Jawab Pada Saat Workshop Berlangsung, Rabu (12/2/2025) (Tantri / Kabarterdepan.com)

Mereka tertarik untuk lebih memahami manfaat probiotik bagi kesehatan tubuh, serta belajar teknik-teknik yang tepat untuk mengolah bahan baku agar menghasilkan jus dengan kualitas terbaik.

Diskusi yang terjadi juga mencakup berbagai cara untuk mengoptimalkan fermentasi, agar probiotik yang terkandung dalam jus dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi tubuh.

Melalui kegiatan ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Mojokerto berharap agar masyarakat, terutama ibu-ibu rumah tangga, dapat lebih memahami dan menghargai pentingnya konsumsi probiotik alami sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

Selain itu, pelatihan ini diharapkan dapat memberi keterampilan praktis kepada peserta, yang nantinya dapat mereka aplikasikan di rumah untuk membuat jus probiotik secara mandiri.

Tidak hanya itu, kegiatan ini juga membuka peluang bagi peserta untuk mengembangkan usaha berbasis minuman fermentasi yang lebih sehat dan alami, yang bisa menjadi peluang bisnis yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat.

Dengan adanya workshop ini, diharapkan dapat tercipta kesadaran yang lebih besar di kalangan masyarakat mengenai pentingnya konsumsi probiotik alami dalam kehidupan sehari-hari, serta pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan pencernaan melalui produk yang aman dan tanpa bahan pengawet.

Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan bahan-bahan alami di sekitar mereka, sehingga dapat memproduksi minuman yang tidak hanya menyehatkan, tetapi juga dapat mendukung kehidupan yang lebih sehat secara keseluruhan. (Tantri*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page