
Yogyakarta, kabarterdepan.com – Warga RT 28 RW 6 Kelurahan Purwokinanti, Pakualaman, Kota Yogyakarta, DIY sudah lebih dari 10 tahun mengalami kesulitan akses air.
Hal tersebut dirasakan terutama oleh warga yang sudah berlangganan air dari perusahaan air minum daerah.
Salah seorang warga Kampung Purwokinanti Heru Setiawan menyampaikan keluhan warga tentang sulitnya mengakses air sudah dirasakan sejak lama.
“Kalau di sini itu sering siang-siang air PDAM mati. Jadi didahulukan dulu aktivitas anak sekolah, kalau siang kan jarang juga pakai, tapi kalau malam airnya mengalir kencang,” katanya saat diwawancarai, Jumat (16/8/2025).
“Warga milih buat tandon, jadi kalau malam dibanyakin sekalian, buat jaga-jaga kalau paginya mati, kalau tidak ada stok milih mandi di kantor,” imbuhnya.
Di kampung tersebut sebelumnya juga sudah dibangun 3 titik WC umum yang bisa digunakan warga dari air pompa untuk mandi. Sejumlah WC umum tersebut dibangun setelah banyaknya komplain warga sekitar soal akses air dari PDAM yang tidak normal.
“Ya kadang warga cuma ngeluh kok punyaku gak hidup. Sekarang harus menimba air dan mandi di WC umum, karena itu kan pakai pompa,” katanya.
Sesekali warga merasa jengkel karena sudah membayar langganan ke PDAM. Meskipun sudah tidak lagi berlangganan air ledeng, dari informasi yang ia dapat, abonemen (biaya langganan) yang dikenakan sebesar Rp60 ribu per bulan.
“Katanya abonemennya itu dipakai nggak dipakai Rp60 ribu, kan per kubiknya berapa rupiah gitu. Saya nggak tahu, karena udah nggak langganan,” jelasnya.
“Kalau warga mikirnya ngapain langganan kalau nggak hidup, kan jadi nggak bisa dijagakke (dipastikan),” katanya.
Warga kampung Purwokinanti sebelumnya banyak yang mengakses air PAM. Akibat sering mati, banyak warga yang memilih tidak lagi berlangganan. Heru tidak mengetahui secara pasti jumlah warga yang masih berlangganan, namun ia memperkirakan jumlahnya sekitar 20 KK.
Ia menyampaikan bahwa sulitnya akses air warga bermula ketika pembangunan Hotel Jambuluwuk yang ada di timur Kampung Purwokinanti sekitar tahun 2013. Warga juga sempat mengalami penggusuran akibat pembangunan hotel melalui kesepakatan harga yang diberikan.
Selain itu, pipa yang sebelumnya terpasang kondisinya sudah cukup tua dan rawan bocor. “Bekas pembangunan hotel itu dibongkar, setelah dibongkar banyak pipa-pipa itu pada bocor. Karena pipa besi yang lapuk itu penampilannya dari pemborong (proyek hotel) kurang sesuai standar,” katanya.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo disebut sempat mengakomodasi keluhan saat melakukan kampanye di Kampung Purwokinanti. Saat itu warga menyampaikan terkait sulitnya mengakses air.
Heru menyebut jika Hasto menindak cepat dengan berkoordinasi langsung dengan PDAM Tirtamarta selaku penyedia layanan air PAM.
Petugas disebutnya terlebih dahulu menanyakan sejumlah rumah yang bermasalah mendapatkan saluran air PAM. Setelah dilakukan kroscek dan upaya perbaikan, banyak ditemukan pipa yang bocor sehingga diputuskan untuk membuat jaringan saluran baru.
Kendati begitu, meskipun sudah dilakukan pergantian jaringan saluran. Kondisinya justru tidak jauh berubah.
Heru menyampaikan dalam dua hari terakhir bahwa pihak PDAM melakukan pembongkaran jalan di jalan Juminahan untuk menyalurkan air PAM dari jalur pipa besar.
“Kalau dari warga menyambut baik, semoga setelah ini bisa lancar,” katanya.
Warga Kampung Purwokinanti, Agung Putranto menyampaikan banyak warga yang harus menunggu jam 11-12 malam untuk mandi.
“Kalau keluhannya airnya kalau nyala kencang waktu malam, itu 11 malam naik kencang kalau siang netes, kadang-kadang mati,” katanya.
Ia menyebut, pihak PDAM sudah beberapa kali melakukan perbaikan saluran air di rumah warga, hingga perbaikan jaringan namun belum bisa membuat air mengalir normal kembali.
Untuk kebutuhan minum, ia menyampaikan bahwa kebanyakan warga lebih memilih membeli air galon. “Kalau minum pakai galon semua rata rata. Kelihatannya mungkin sudah menjadi kebiasaan warga,” katanya. (Hadid Husaini)
