
Opini, Kabarterdepan.com – Pernah terbayangkan tidak kalau para sales promotion girl (SPG) itu kebanyakan cantik-cantik? Para pramugari, para frontliner perbankan, para presenter, bahkan para artis pun kebanyakan juga cantik-cantik.
Kalau saya bisa menilai profesi-profesi di atas syarat nomor 1 yang dibutuhkan saat melamar adalah kecantikan, urusan dia kompeten atau tidak menjadi nomor yang kesekian karena bisa dilatih. Parahnya virus cantik itu merambah hampir ke seluruh informasi lowongan pekerjaan dengan dibungkus versi halus “Good Looking”.
Kenapa saya berani bilang bahwa itu adalah versi halus? Karena berdasarkan testimoni dari para pejuang rupiah yang menyimpulkan bahwa cantik itu adalah nilai plus yang dapat membantu mereka mendapat pekerjaan.
Ngomong-ngomong soal kecantikan, saya merasa makin kesini semua wanita berlomba-lomba mempercantik dirinya masing-masing. Itu bagus! Tapi sebenarnya kecantikan dapat membuahkan dua hal, keuntungan pribadi (privilege) atau justru malah menjadi sumber petaka.
Cantik yang saya maksud bukan hanya cantik yang anugerah dari tuhan langsung, melainkan juga cantik yang berasal dari mempercantik diri dengan usaha seperti body goal, good-makeup, perawatan dan sebagainya. Lah, memangnya wanita mana yang tidak ingin dipuji cantik? Tidak ingin treat like a princess? Tidak ingin diratukan? Saya kira semua wanita ingin.
Kalimat-kalimat seperti “Lu cantik lu aman” atau “Untung cantik, kalo ga sudah digoreng habis-habisan” adalah contoh sebuah keuntungan dari cantik. Tiba-tiba jadi brand ambassador produk kecantikan, seleb dadakan di media sosial, model majalah, model foto produk dan sebagainya.
Pasti itu semua privilege dong, tiba-tiba cuan dadakan, pekerjaan mudah didapat, bakal diratukan seluruh cowo-cowo, hanya karena dapat keuntungan alami dari yang namanya cantik. Sehingga tidak heran banyak yang protes ke tuhan dengan pertanyaan kurang lebih begini “Tuhan kenapa kok saya tidak cantik seperti dia?”.
Tapi eh tapi cantik juga bisa mendatangkan petaka seperti obsession, ketakutan akan adanya penggemar yang ngebet banget pengen memiliki si cantik seutuhnya dengan menghalalkan segala cara. Petaka lainnya seperti ketakutan akan memudarnya kecantikan, kebimbangan dalam melangkah, no more privacy karena pasti bakalan gains fame atau bahkan mungkin dijadikan bahan pemuas hasrat lelaki yang bisa mendorong pada tindakan kriminal. Maka, saya harus memahami jika para wanita juga diambang ketakutan akan paradoks tersebut.
Pada intinya adalah wanita cantik dianggap sebagai pasar bebas yang seluruh tubuhnya dapat dijual untuk menghasilkan keuntungan. Saya berani bilang demikian karena seperti yang sudah saya sebutkan di awal bahwa kecantikan memang dibutuhkan dalam beberapa profesi di korporasi. Namun, saya harus realistis sehingga tidak sepenuhnya menyalahkan, coba saja ada sales lady yang maaf ‘kurang’ pasti jangankan menarik, mata melirik pun ogah sepertinya.
Wanita cantik memang layak dijual karena memang sangat membantu mengucurkan cuan. Strategi marketing produk menjadi lebih tersorot jika bersama mereka. Seakan-akan para wanita cantik itu kodratnya adalah untuk dijual demi keuntungan bisnis karena sistem yang semakin kapitalis. Diperas habis-habisan demi yang namanya cuan. Pasarnya adalah para pria yang mengantongi banyak uang dan bisnis. Hal itu pasti berkorelasi dengan hasrat nafsu pria yang tiada habisnya dalam memandang seorang wanita cantik.
Refleksinya saya takut para wanita di luar sana lebih ‘memuja-muja’ pada kecantikan dan mengesampingkan yang lainnya, seperti adab, ilmu, skill, intelektualitas. Atau mungkin bisa begini ilmu ada, adab bagus, skill oke, intelektualitas bagus tapi jika ingin karir cemerlang dengan cepat syaratnya harus cantik juga. Saya memberi pesan bahwa cantik itu bagus, menjadi cantik sangatlah bagus tapi cantik itu juga bisa mendatangkan petaka. Apalagi kalau ingin cantik tapi harus merepotkan orang lain, seperti hutang teman buat perawatan atau beli makeup ITU TIDAK BOLEH YA GAIS YA.
Saya menghargai dan mengapresiasi seluruh perjuangan para wanita di luar sana yang menjadikan dirinya secantik mungkin. Sehingga berhak saja dan tidak boleh ada yang protes jika para wanita yang sudah effort untuk cantik berlagak centil di sosial media. Bagi saya itu adalah sebuah pencapaian yang patut mereka banggakan. Walaupun Kecantikan yang diunggah dalam media sosial menjadi abstraksi, kita hanya bisa melihat parasnya tapi tidak dengan yang lainnya.
Pilihlah bahwa kalian (para wanita) ingin menjadi cantik untuk apa, kebanyakan menjawab untuk diri sendiri, tapi ketahuilah juga bahwa kalian punya kedaulatan atas cantik itu sendiri. Kalian Merdeka atas jati diri kalian. Inner beauty kalian yang sesungguhnya juga merupakan kecantikan. Jangan sampai kecantikan kalian diperas habis-habisan hanya demi keuntungan seseorang atau korporasi yang eksploitatif. (*)
Penulis Gian Alfianuddin, Video Editor Kabar Terdepan
