Usaha Sari Kedelai Rumahan di Mojokerto Tetap Moncer Meski Harga Bahan Baku Naik

Avatar of Redaksi
IMG 20250104 WA0029
Potret minuman sari kedelai produksi Sri Aniati (Tantri / Kabarterdepan.com)

Mojokerto, Kabarterdepan.com – Harga kedelai impor mengalami lonjakan tajam dalam beberapa bulan terakhir, namun hal tersebut tidak mempengaruhi usaha sari kedelai yang berlokasi di Kemantren, Kecamatan Gedeg, Mojokerto. Penjualan usaha minuman sari kedelai milik seorang ibu rumah tangga, Sri Aniati, justru menunjukkan tren peningkatan.

Ini menjadi fenomena menarik yang menantang teori ekonomi tradisional yang menghubungkan kenaikan harga bahan baku dengan penurunan permintaan.

Bisnis kuliner termasuk minuman masih menjadi pilihan favorit di masyarakat dan minuman yang satu ini berbeda dari yang lain yaitu minuman sari kedelai “Bu Ani” menarik perhatian konsumen masyarakat Kecamatan Gedeg.

Berawal ketika mulai mengisi waktu luang dengan senang beraktivitas, produksi sari kedelai menjadi kegiatan menguntungkan bagi Sri Aniati yang juga anggota penggerak PKK Desa Kemantren Kecamatan Gedeg.

Sari kedelai miliknya semakin berinovasi dengan menghadirkan berbagai pilihan rasa dan kemasan yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Selain kemasan botol ukuran 500 ml yang selama ini populer, kini kemasan plastik juga mulai banyak dipasarkan olehnya.

“Biasanya untuk kemasan botol itu lebih efisien untuk penjualan dan lebih praktis, sedangkan kemasan plastik kecil untuk segmentasi kalangan anak-anak dengan warna rasa. Khasnya kalau botol menggunakan tutup warna putih menyelaraskan,” ujar Sri Aniati, Jumat (3/1/2025).

Kenaikan penjualan signifikan selama berlangsungnya event Pilkada 2024 yang mencari minuman sehat dan bergizi untuk mendampingi aktivitas mereka yang padat selama masa pemilu.

Permintaan dari konsumen meningkat sebanyak 156 botol, 82 botol pada kegiatan bazar UMKM, sedangkan hari biasa promosi hanya dilakukan via WhatApp. Dengn dengan jaringan komunikasi yang canggih, banyak pesanan sari kedelai “Bu Ani” yang masuk via online.

Sensasi dingin pada sari kedelai membutuhkan penyimpanan dalam lemari pendingin agar lebih menyegarkan. Namun, dengan penggeloaan yang mempertahakan cara tradisonal olahan rumahan, produk sari kedelai “Bu Ani” dapat disimpan pada suhu ruang tanpa perlu khawatir mengenai kualitas produk dalam jangka waktu singkat hingga 2 hari.

“Untuk tingkat kemanisan sari kedelaipun pembeli dapat request, ada yang sangat manis, sedang, atau biasa bisa disesuaikan pesanan,” tambah Sri Aniati.

Tidak ada trik atau cara khusus dalam pembuatan sari kedelai karena dalam prosesnya ia masih terus berusaha mengembangkan inovasi. Ia berharap dapat mengoptimalkan proses pengolahan yang lebih efisien dan ramah lingkungan dengan terus bereksperimen terhadap teknik pengemasan yang lebih baik. (Tantri*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page