
Surabaya, Kabarterdepan.com – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengembangkan sekolah budaya untuk anak-anak yang tumbuh di eks lokalisasi seperti Dolly di Surabaya.
Anak-anak tersebut dapat mengalami dampak negatif seperti kekerasan seksual, penelantaran, masalah moral akibat terekspos kegiatan prostitusi, serta stigma sosial.
Lingkungan yang identik dengan kegiatan negatif seperti prostitusi, narkoba, dan premanisme dapat mempengaruhi perkembangan psikologis dan sosial anak. Banyak anak anak yang tinggal di kawasan tersebut yang mengalami kesulitan untuk memahami diri dan berinteraksi.
Fakultas Psikologi Unesa
Berangkat dari hal tersebut Fakultas Psikologi Unesa mendirikan Sekolah Budaya Anak Gang Dolly Surabaya.
Melalui sekolah ini nantinya pihaknya akan memberikan Ddkungan dalam bentuk fasilitasi rapat, pendampingan psikologis, hingga pemberdayaan dari para relawan mahasiswa.
Fitrania Maghfiroh, dosen sekaligus perwakilan Fakultas Psikologi Unesa mengatakan Sekolah Budaya Anak Gang Dolly ini akan berlangsung selama tiga bulan ke depan dengan kegiatan belajar rutin setiap hari Sabtu, melibatkan 35 anak binaan sebagai peserta utama.
“Kami melihat potensi besar untuk mengubah wajah pendidikan anak-anak di kawasan marginal melalui pendekatan berbasis budaya yang relevan dan menyentuh aspek psikologis anak,” kata Fitrania, Selasa (14/10/2025).
Sekolah Budaya Anak Gang Dolly ini merupakan hasil kerja sama banyak pihak seperti Binar Community dan Tim Pandawa, RW XII Kampung Dolly, Pertamina Foundation, dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Surabaya.
Program ini mengusung konsep Culture-Based Learning dengan mengintegrasikan nilai-nilai tokoh Pandawa; Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa, sebagai landasan kurikulum pendidikan karakter.
‘Melalui pendekatan ini, anak-anak diajak untuk memahami nilai kepemimpinan, keberanian, kreativitas, kejujuran, dan rasa saling menghargai, sekaligus mengenal budaya lokal yang lekat dengan kehidupan mereka,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama Rifda Haura Fathina Besri, Wakil Presiden Binar Community sekaligus sekretaris program Sekolah Budaya Anak Gang Dolly menuturkan konsep tokoh pandawa yang dicetuskan merupakan hasil observasi. Dimana anak anak di eks lokalisasi Dolly ini lebih tertarik dengan hal hal yang berbau budaya dibandingkan teknologi dan sosial media.
“Mereka lebih tertarik pada hal-hal yang bernuansa budaya dibandingkan teknologi atau media sosial. Karena itu, nilai-nilai Pandawa kami jadikan dasar pembelajaran karakter,” tuturnya.
Tidak ada sistem rapor akademik seperti sekolah formal, namun pembelajaran difokuskan pada bagaimana anak-anak memahami diri, berinteraksi dengan lingkungan, dan menumbuhkan empati.
Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin ke-4 tentang Pendidikan Berkualitas dan poin ke-10 tentang Pengurangan Kesenjangan.
“Harapannya, sekolah budaya ini bisa terus berlanjut dan menjadi wadah yang abadi bagi anak-anak di Dolly. Karena di tengah arus modernisasi, pendidikan karakter justru semakin penting,” pungkasnya.
