
Surabaya, Kabarterdepan.com – Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat Universitas Airlangga (Unair) melalui Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) melaksanakan kegiatan Pengabdian Masyarakat di Kios Taufiq Maggot, Sidoarjo. Kegiatan ini terlaksana pada Senin, (1/12/2025).
Kartika Nur dosen Teknik Industri FTMM mengatakan kegiatan kali ini untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, yaitu SDG 8: Decent Work and Economic Growth dan SDG 12: Responsible Consumption and Production.
Pihaknya, hadir menjawab permasalahan mitra terkait ketidakkonsistenan ukuran larva, variasi media pakan, dan pencahayaan yang belum optimal. Kondisi tersebut menyebabkan pengembalian produk hingga 20–35 kg per minggu, sehingga menurunkan efisiensi produksi UMKM.
Tim memberikan pelatihan teknis berbasis eksperimen lapangan, termasuk pengaturan jenis pakan (campuran tomat, sawi, dan nasi), jumlah pakan 4–6 gram, serta penggunaan intensitas cahaya redup sekitar 184 lux.
“Pelatihan juga menekankan waktu panen optimal pada hari ke-14 agar larva mencapai ukuran maksimal sebelum memasuki fase prapupa. Seluruh rekomendasi ini merujuk pada hasil uji coba yang ditampilkan dalam materi pelatihan,” kata Kartika, Minggu (30/11/2025).

Lebih lanjut, melalui kegiatan ini, FTMM mengajak masyarakat untuk memanfaatkan limbah menjadi sumber daya bernilai ekonomi. Sementara itu, dari sisi SDGs 8, kegiatan ini meningkatkan kapasitas ekonomi UMKM melalui SOP budidaya berbasis sains, inovasi pengemasan maggot kering, serta pendampingan pencatatan produksi dan strategi pemasaran digital.
“Upaya ini memperkuat daya saing mitra dan membuka peluang kerja baru di sektor pengelolaan limbah organik,” tambahnya.
Budidaya Maggot
Budidaya maggot BSF terbukti mampu mereduksi hingga 80 persen limbah organik dan menghasilkan biomassa berprotein tinggi, sehingga menjadi solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Program ini mendukung pengurangan limbah organik rumah tangga yang mencapai lebih dari 16 juta ton per tahun di Indonesia.
“Budidaya maggot BSF terbukti mampu mereduksi hingga 80 persen limbah organik dan menghasilkan biomassa berprotein tinggi, sehingga menjadi solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” pungkasnya.
