
Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com — UMR rendah membuat warga Kota Mojokerto bertahan di tengah biaya hidup yang terus naik dan semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi sebagian pekerja, penghasilan bulanan dinilai tidak lagi seimbang dengan kebutuhan pokok yang harus dipenuhi setiap bulan.
Kondisi tersebut dirasakan oleh pekerja sektor swasta dan informal yang mengandalkan upah minimum sebagai sumber penghasilan utama.
Kenaikan harga bahan pokok, biaya pendidikan, dan kebutuhan rumah tangga menjadi tekanan yang sulit dihindari, meski tinggal di kota yang dikenal lebih tenang dibanding wilayah perkotaan besar.
“Kalau dibilang hidup di Mojokerto murah, memang tidak semahal kota besar, tapi tetap berat kalau gajinya segitu saja,” kata AV (29), pekerja swasta pada Rabu (3/2/2026).
Ia menyebut sebagian besar penghasilannya habis untuk kebutuhan makan, listrik, dan transportasi sehari-hari.
AV menjelaskan bahwa pengeluaran bulanan terus meningkat, sementara pendapatan tidak mengalami perubahan berarti. Situasi ini membuat banyak pekerja terpaksa mengurangi kebutuhan pribadi dan menunda rencana untuk nikah untuk nabung terlebih dahulu.
Kondisi Warga UMR Rendah

Kondisi lebih sulit dialami warga yang menerima upah di bawah UMR, terutama di sektor informal dan usaha kecil. Minimnya lapangan kerja membuat sebagian pekerja tidak memiliki banyak pilihan selain menerima kondisi tersebut.
“Saya sadar gaji saya di bawah UMR, tapi mencari pekerjaan sekarang tidak mudah,” ujar Rachel (19), pekerja toko kue. Ia mengaku tetap bertahan karena khawatir kehilangan penghasilan jika memilih berhenti bekerja.
Meski menghadapi tekanan ekonomi, Mojokerto masih memiliki sisi positif bagi warganya. Biaya tempat tinggal yang relatif terjangkau, jarak tempuh kerja yang lebih singkat, serta suasana kota yang tidak terlalu padat menjadi alasan sebagian warga memilih tetap tinggal.
“Di sini tidak terlalu macet, pulang kerja masih bisa kumpul dengan keluarga,” kata Rachel. Menurutnya, ketenangan lingkungan menjadi nilai lebih meski penghasilan belum sepenuhnya mencukupi.
Di tengah keterbatasan tersebut, solidaritas sosial masih terasa kuat di lingkungan masyarakat. Hubungan antarwarga yang akrab membantu meringankan beban, terutama saat menghadapi kesulitan ekonomi.
“Kalau ada tetangga yang kesusahan, biasanya masih saling bantu,” ujar Rachel. Ia menilai kepedulian sosial menjadi salah satu alasan warga tetap bertahan di Mojokerto.
Warga berharap adanya perhatian lebih terhadap kesejahteraan pekerja, terutama terkait pengawasan upah dan penciptaan lapangan kerja yang layak.
Bagi mereka, hidup layak bukan tentang kemewahan, melainkan tentang keseimbangan antara kerja keras dan penghasilan yang diterima. (Innka)
