
Bisnis, Kabarterdepan.com – Tupperware, merek legendaris yang dikenal dalam dunia penjualan langsung atau direct selling, resmi mengajukan kebangkrutan di Delaware, Amerika Serikat, pada Selasa malam.
Kejatuhan ini mengingatkan kita betapa cepatnya perubahan di era digital mampu melumat bisnis besar yang gagal beradaptasi.
Berikut Beberapa Alasan Tupperware Bangkrut Dari Berbagai Sumber:
Penurunan Penjualan yang Drastis
Tupperware mengalami penurunan penjualan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun mereka mencoba memasukkan produk ke toko ritel dan platform daring, usaha ini tidak cukup untuk menarik konsumen modern yang kini lebih memilih belanja online melalui e-commerce seperti Tokopedia dan Shopee.
Model direct selling yang dulunya menjadi kekuatan, sekarang justru mulai kehilangan daya tarik.
Menurut manajemen Tupperware, “Lonjakan biaya tenaga kerja, pengiriman, dan bahan baku pascapandemi seperti resin plastik juga menekan bisnisnya.”
Disrupsi Digital yang Menghancurkan Bisnis Direct Selling
Disrupsi digital membawa dampak besar bagi bisnis Tupperware. Di era digital ini, konsumen menginginkan kemudahan dan kecepatan, seperti yang ditawarkan oleh e-commerce dan influencer marketing. Sayangnya, model direct selling tradisional yang mengandalkan acara Pesta Tupperware kini dianggap ketinggalan zaman.
Generasi milenial dan zilenial lebih suka belanja online melalui aplikasi dan media sosial seperti Instagram dan TikTok. Menurut beberapa ahli, “Generasi muda lebih tertarik belanja online karena lebih cepat dan praktis.”
Beban Utang yang Membengkak
Selain menghadapi perubahan perilaku konsumen, Tupperware juga terlilit utang besar hingga mencapai US$812 juta. Dengan kewajiban perusahaan yang diperkirakan antara US$1 miliar hingga US$10 miliar, Tupperware kini berada di bawah tekanan kreditor yang mengancam akan menyita aset-asetnya.
Kejadian Tupperware bangkrut menjadi contoh nyata kegagalan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Model penjualan langsung yang dulu berjaya, kini tergerus oleh disrupsi digital dan perubahan perilaku konsumen. Bisnis yang tidak cepat beradaptasi akan menghadapi nasib yang serupa.
Seperti yang diungkapkan Yuswohady, seorang Business Consultant Managing Partner Inventure, “Disrupsi digital melumat model bisnis direct selling tradisional. E-commerce dan media sosial kini menguasai pasar.”
Melihat kebangkrutan Tupperware, banyak yang mempertanyakan apakah model bisnis direct selling masih relevan di era ini.
Bisnis perlu terus berinovasi agar tetap kompetitif. Pertanyaannya, apakah Tupperware akan mampu bangkit kembali dengan strategi baru, atau ini adalah akhir dari sebuah era yang telah bertahan lebih dari 70 tahun?
