Tumpeng Tempe Raksasa Sedengan Mijen, Warisan Budaya Unik yang Menyedot Ribuan Warga

Avatar of Jurnalis: Ririn
Sambut Ramadan, Warga Sedengan Mijen Gelar Ruwat Desa dengan Tumpeng Tempe Raksasa 14 Meter
Sambut Ramadan, Warga Sedengan Mijen Gelar Ruwat Desa dengan Tumpeng Tempe Raksasa 14 Meter. (Sumber: Azies/Kabar Terdepan.com)

Sidoarjo, Kabar Terdepan.comTumpeng tempe raksasa setinggi 14 meter menjadi pusat perhatian dalam tradisi ruwat desa yang digelar warga Desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, menjelang bulan suci Ramadan, Minggu (1/2/2026). Tradisi tahunan ini tidak hanya sarat nilai spiritual, tetapi juga menjadi simbol kuat gotong royong dan pelestarian budaya lokal masyarakat setempat.

Tumpeng tempe yang berdiri megah di lapangan desa itu langsung menyita perhatian ribuan warga yang memadati lokasi acara sejak pagi hari. Ikon utama ruwat desa tahun ini tersusun dari sekitar tiga kuintal kedelai, hasil gotong royong para perajin tempe dan warga Desa Sedengan Mijen yang secara sukarela menyumbangkan produksi tempe mereka.

Proses pembuatan tumpeng tempe raksasa melibatkan puluhan perajin lokal serta masyarakat desa. Gotong royong tersebut menjadi cerminan kuat solidaritas warga sekaligus wujud rasa syukur atas limpahan rezeki dan keselamatan yang diterima sepanjang tahun.

Spektakuler! Sambut Ramadan, Warga Sedengan Mijen Gelar Ruwat Desa dengan Tumpeng Tempe Raksasa 14 Meter

Kepala Desa Sedengan Mijen, Hasanuddin, menegaskan bahwa ruwat desa bukan sekadar seremoni budaya, melainkan warisan leluhur yang sarat makna spiritual dan sosial.

“Gunungan tempe ini mencerminkan jati diri Desa Sedengan Mijen sebagai kampung perajin tempe. Lebih dari itu, ruwat desa menjadi sarana untuk memohon keselamatan, keberkahan, serta mendoakan para pendahulu desa yang telah berjasa,” ujar Hasanuddin.

Selain tumpeng tempe raksasa, arak-arakan budaya juga dimeriahkan dengan 31 tumpeng hasil bumi yang dibawa masing-masing RT. Deretan tumpeng tersebut melambangkan persatuan, kekompakan, serta semangat kebersamaan warga dalam menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Hasanuddin juga mengungkapkan bahwa meski jumlah perajin tempe di Desa Sedengan Mijen kini tersisa sekitar 25 orang, kualitas dan cita rasa tempe lokal tetap terjaga. Bahkan, tempe Sedengan Mijen masih menjadi kebanggaan dan identitas desa yang terus dipertahankan.

Perayaan ruwat desa ini turut dihadiri Camat Krian, Nawari, yang hadir mewakili Bupati Sidoarjo. Ia memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi dan kekompakan warga dalam melestarikan budaya lokal.

“Kegiatan ini bukan hanya memiliki nilai budaya dan spiritual, tetapi juga menyimpan potensi besar sebagai daya tarik wisata. Apalagi, ruwat desa Sedengan Mijen telah masuk dalam rangkaian resmi peringatan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo ke-167,” kata Nawari.

Usai rangkaian doa bersama dan istigasah, puncak acara ditandai dengan pembagian tumpeng tempe raksasa yang langsung menjadi rebutan ribuan warga. Masyarakat meyakini potongan tempe tersebut membawa berkah dan keberuntungan bagi keluarga.

Salah satu pengunjung asal Kecamatan Prambon, Kusairi (35), mengaku antusias mengikuti tradisi unik tersebut meski harus berdesakan dengan warga lainnya.

“Saya penasaran ingin melihat langsung karena ini unik dan jarang ada. Alhamdulillah masih kebagian meski harus berjuang,” ujarnya.

Tradisi ruwat desa tersebut diikuti antusias oleh ribuan warga, tidak hanya dari Desa Sedengan Mijen, tetapi juga dari desa-desa sekitar di Kecamatan Krian dan wilayah Sidoarjo lainnya.

Sejak pagi hari, warga sudah memadati lapangan desa untuk menyaksikan prosesi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh para leluhur. Kehadiran tumpeng tempe raksasa menjadi daya tarik utama karena dinilai unik, langka, dan mencerminkan identitas desa sebagai sentra perajin tempe.

Tumpeng tempe raksasa itu disusun dari sekitar tiga kuintal kedelai yang diolah menjadi tempe oleh para perajin lokal. Proses pembuatannya dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan puluhan warga dan perajin tempe, mulai dari tahap produksi, penyusunan, hingga pengangkutan ke lokasi acara. Kebersamaan tersebut menjadi wujud nyata solidaritas sosial warga desa yang masih terjaga kuat di tengah perubahan zaman.

Ruwat desa merupakan momentum penting untuk memperkuat persatuan warga sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana doa bersama untuk memohon keselamatan, kelancaran rezeki, serta dijauhkan dari berbagai marabahaya.

Melalui ruwat desa ini, masyarakat ingin menjaga warisan budaya sekaligus mengenalkan identitas Desa Sedengan Mijen sebagai kampung perajin tempe kepada generasi muda.

Selain tumpeng tempe raksasa, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan arak-arakan budaya berupa 31 tumpeng hasil bumi yang dibawa oleh masing-masing RT. Tumpeng-tumpeng tersebut berisi aneka hasil pertanian dan pangan lokal sebagai simbol kemakmuran, kebersamaan, serta kekompakan warga desa.

Banyak pihak mengapresiasi konsistensi warga Desa Sedengan Mijen dalam melestarikan tradisi lokal yang bernilai budaya, spiritual, dan ekonomi. Menurutnya, ruwat desa memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai agenda wisata budaya tahunan.

Puncak acara ditandai dengan pembagian tumpeng tempe raksasa kepada warga. Ribuan masyarakat tampak antusias berebut potongan tempe yang diyakini membawa berkah dan keberuntungan. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan tertib dengan pengamanan dari aparat TNI dan Polri.

Seluruh rangkaian acara berlangsung aman dan tertib dengan pengamanan dari aparat TNI dan Polri. Ruwat Desa Sedengan Mijen pun ditutup dengan harapan agar nilai kebersamaan, tradisi, dan kearifan lokal tetap lestari serta terus diwariskan kepada generasi mendatang.(Azies)

Responsive Images

You cannot copy content of this page