Tips Mengajak Kerja Sama Pedagang Kecil Secara Sopan dan Profesional

Avatar of Redaksi
kerja sama
Warung makan dengan menu lengkap sangat berpotensi untuk diajak kerja sama. (Rawi/Kabarterdepan.com)

Gaya Hidup, Kabarterdepan.com – Dalam menjalankan strategi menambah penghasilan di bulan Ramadan—baik sebagai Hampers Curator, Digital Assistant, maupun Takjil Hunter—kamu akan sering berurusan dengan pedagang kecil atau UMKM lokal.

Berbeda dengan perusahaan besar yang kaku dengan kontrak, pedagang kecil jauh lebih mengutamakan kepercayaan dan kenyamanan personal.

Salah langkah dalam berucap bisa membuat mereka merasa terintimidasi atau malah curiga. Agar kerja samamu berjalan mulus dan membawa berkah bagi kedua belah pihak, simak panduan etika bernegosiasi berikut ini.

1. Jadilah Pembeli Sebelum Jadi Mitra

Jangan datang sebagai orang asing yang tiba-tiba menuntut kerja sama. Cara terbaik untuk memulai adalah dengan menjadi pelanggan mereka terlebih dahulu.

  • Cicipi Produknya: Pastikan kamu tahu persis kualitas yang mereka tawarkan.
  • Amati Jam Sibuk: Jangan datang saat mereka sedang dikerubungi pembeli (misal: jam 5 sore saat ngabuburit). Datanglah saat suasana lebih tenang agar mereka punya waktu untuk mendengarkanmu.

2. Bahasa yang Sederhana adalah Kunci

Hindari menggunakan istilah keren seperti “engagement rate”, “conversion”, atau “affiliate“. Istilah-istilah ini sering kali terdengar asing dan justru membuat mereka ragu.

  • Gunakan Sapaan Akrab: Panggil dengan sebutan Pak, Bu, Mas, atau Mbak sesuai adat setempat.
  • Ganti Istilah Teknis: Gunakan kata “bantu promosi”, “bantu carikan pembeli”, atau “bantu rapikan catatan pesanan”.

3. Skrip Percakapan: Cara Membuka Obrolan

Berikut adalah contoh dialog yang sopan untuk memulai penawaran kerja sama:

Kamu: “Selamat sore, Bu. Saya [Nama], yang kemarin beli risolnya. Rasanya enak banget, Bu, sampai keluarga saya di rumah ketagihan.”

Pedagang: “Eh, iya Mas/Mbak. Terima kasih ya sudah mampir lagi.”

Kamu: “Begini Bu, saya kebetulan sering bikin konten kuliner di media sosial. Saya lihat dagangan Ibu potensinya besar tapi mungkin belum banyak orang jauh yang tahu. Boleh tidak kalau saya bantu promosikan supaya makin viral dan ramai?”

4. Jelaskan Keuntungan Bagi Mereka

Pedagang kecil biasanya takut akan biaya tambahan atau ribetnya prosedur. Jelaskan bahwa kehadiranmu adalah untuk meringankan beban mereka, bukan menambah beban.

  • Jika Jasa Admin: Jelaskan bahwa mereka cukup fokus memasak, dan kamu yang akan mengurus pusingnya membalas chat pembeli.
  • Jika Jasa Kurasi: Jelaskan bahwa kamu akan membeli produk mereka secara rutin (mungkin dalam jumlah banyak) untuk dikemas jadi hampers.

5. Transparansi Soal “Cuan”

Masalah uang adalah hal yang sensitif. Jika ada sistem bagi hasil, jelaskan dengan simulasi yang nyata dan mudah dihitung.

Contoh: “Nanti kalau ada yang pesan lewat saya, harga dari Ibu tetap Rp10.000. Saya akan jual ke pembeli Rp12.000. Jadi Ibu tetap dapat hak Ibu penuh, dan Rp2.000-nya adalah jasa saya untuk cari pembeli dan bungkus kado. Bagaimana menurut Ibu?”

6. Etika Mengambil Konten (Foto/Video)

Jangan asal jepret. Selalu minta izin sebelum mengarahkan kamera ke arah mereka atau dagangan mereka.

Contoh: “Bu, boleh saya ambil video sedikit pas Ibu lagi goreng? Supaya orang-orang bisa lihat kalau makanan di sini segar dan bersih.”

Hargai Privasi: Jika mereka keberatan wajahnya masuk kamera, fokuslah hanya pada produk dan tangannya saat bekerja.

Screenshot 20250104 193728
Batagor Suparlan di Kota Mojokerto. (Steven/kabarterdepan.com)

7. Hargai Keputusan Mereka

Tidak semua pedagang langsung setuju, dan itu tidak apa-apa. Jika mereka menolak, tetaplah bersikap sopan dan jadilah pelanggan yang baik.

Penutup yang Baik: “Oh, tidak apa-apa Bu kalau belum berminat. Saya tetap akan jadi langganan di sini kok karena makanannya memang enak. Ini kartu nama/nomor saya, kalau kapan-kapan Ibu berubah pikiran, silakan hubungi saya ya.”

Kerja sama dengan pedagang kecil adalah tentang membangun silaturahmi. Ketika mereka merasa dihormati dan dibantu tulus, pintu rezeki akan terbuka lebar bagi kalian berdua.

Kesopananmu adalah “kartu nama” terbaik yang akan membuat bisnis harianmu bertahan lama, bahkan setelah bulan Ramadan berakhir. (Rawi)

Responsive Images

Tinggalkan komentar

You cannot copy content of this page