
Kota Mojokerto, Kabarterdepan.com – Proyek pembangunan Pujasera Kapal Majapahit di kawasan Taman Bahari Majapahit, Kota Mojokerto, mangkrak hampir 2 tahun. Kondisi bangunan yang akan digadang-gadang menjadi ikon kota ini justru memprihatinkan dan tidak terurus.
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, struktur bangunan kapal tersebut tampak belum rampung dengan banyak bagian yang masih berupa konstruksi kasar.
Struktur bangunan kapal yang terbuat dari triplek dan dindingnya yang dipasang pada kerangka besi galvalum, kini tampak mengalami kerusakan.
Triplek pada dinding kapal sudah retak-retak akibat korosi, sedangkan beton di beberapa bagian bangunan tampak berlumut. Di area sekitar kapal, rumput liar tumbuh subur, menambah kesan terbengkalai pada proyek ini.
Sementara, di bagian luar bangunan kapal telah dilapisi dengan tekstur menyerupai kayu yang berwarna kecokelatan.
Pada bagian dalam, terlihat rangka penyangga kayu yang untuk menopang cor bangunan dan dikelilingi puing-puing dan material konstruksi yang berserakan, menciptakan kesan kurang terawat.
Diketahui, proyek senilai Rp 2,5 miliar yang berasal dari APBD 2023 tersebut dibangun oleh kontraktor CV Hasya Putra Mandiri asal Jombang dan konsultan perencana PT Sigra Asanka dari Surabaya. Namun, mangkraknya pembangunan ini diduga kuat akibat adanya penyelewengan dana. Kejaksaan Negeri (Kejari) Mojokerto telah menyegel bangunan pada 13 Januari 2025 lalu.
Kepala Seksi Tindak Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Kota Mojokerto, Tezar Rachadian, menyebutkan pihaknya tengah mendalami aspek teknis proyek, termasuk konstruksi dan pengadaan, dengan melibatkan ahli dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).
“Anggaranya dari APBD itu sekitar 2,5 miliar itu sejak 12 Agustus 2024 dalam perkara itu kita sudah meriksa sekitar 40 orang saksi kemudian 3 ahli, sekarang sedang dalam proses perhitungan kerugian keuangan negara dari BPKP,” papar Tezar, Senin (20/1/2025).
Dengan kondisi yang saat ini tidak menunjukkan progres berarti, proyek Pujasera Kapal Majapahit justru menjadi sorotan negatif masyarakat. (Riris*)
