Target Swasembada Bawang Putih 2029 Dinilai Berisiko Tanpa Jaminan Harga Petani

Avatar of Redaksi
Ilustrasi bawang putih (Freepik)
Ilustrasi bawang putih (Freepik)

Sleman, kabartersepan.com – Target swasembada bawang putih pada 2029 kembali menguat dalam agenda ketahanan pangan nasional.

Namun, di balik dorongan peningkatan produksi, petani masih menghadapi berbagai risiko yang dapat menghambat keberlanjutan usaha tani, salah satunya ketergantungan impor.

Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Hani Perwitasari menegaskan bahwa kepastian harga menjadi faktor utama agar petani bersedia mengembangkan komoditas bawang putih.

Menurutnya, tanpa jaminan harga yang baik, risiko usaha tani menjadi terlalu besar bagi petani.

“Paling penting agar petani mau mengembangkan suatu komoditas adalah harga, sehingga pemerintah perlu memastikan harga yang baik di tingkat petani,” ujar Hani, Rabu (28/1/2026).

Ia menambahkan, pengalaman program pengembangan bawang putih di masa lalu menunjukkan masih adanya persoalan dalam implementasi kebijakan, terutama terkait ketepatan waktu bantuan input.

Ketika benih atau sarana produksi tidak datang sesuai musim tanam, proses budidaya menjadi tertunda dan berdampak pada hasil panen.

“Bantuan yang datang tidak sesuai dengan waktu tanam membuat benih tidak segera ditanam dan akhirnya berdampak pada produksi,” katanya.

Selain persoalan produksi, kepastian pasar juga menjadi perhatian utama petani. Menurut Hani, petani membutuhkan jaminan penyerapan hasil panen agar tidak mengalami kesulitan setelah masa produksi berakhir.

Tanpa kejelasan pasar, petani akan menghadapi ketidakpastian meskipun dukungan pembiayaan tersedia.

“Petani perlu jaminan pasar supaya tidak bingung menjual hasil panen, karena meskipun pembiayaan tersedia, mereka tetap menghadapi risiko seperti cuaca dan ketidakpastian hasil,” ujarnya.

Produksi Bawang Putih Naik, Harga Jangan Jatuh

Hani juga menyoroti potensi penurunan harga ketika produksi meningkat tanpa pengendalian pasar.

Dalam kondisi tersebut, peningkatan produksi tidak selalu diikuti dengan peningkatan kesejahteraan petani. Stabilitas harga dinilai menjadi kunci agar petani tidak menanggung kerugian saat panen raya.

“Ketika produksi banyak, harga seharusnya tetap stabil sehingga hukum permintaan dan penawaran tidak serta-merta menjatuhkan harga di tingkat petani,” tuturnya.

Di sisi lain, kebijakan impor disebut memiliki dampak langsung terhadap minat petani untuk menanam bawang putih.

Jika impor dilakukan tanpa perhitungan berbasis data, produk lokal berisiko tertekan dan harga dapat jatuh.

“Kalau keran impor dibuka sementara produksi dalam negeri sebenarnya mencukupi, harga akan turun dan kondisi ini membuat petani enggan menanam bawang putih,” tegas Hani.

Dengan berbagai tantangan tersebut, Hani menilai keberhasilan swasembada bawang putih tidak bisa hanya diukur dari angka produksi.

Menurutnya, keberlanjutan usaha tani dan kesejahteraan petani harus menjadi indikator utama keberhasilan kebijakan.

“Keberhasilan swasembada terlihat ketika petani merasa sejahtera, pendapatannya layak, dan usahanya bisa berlanjut secara berkelanjutan,” pungkasnya. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page