
Nasional, Kabarterdepan.com – Kementerian Pertanian Republik Indonesia mencatat lonjakan luar biasa dalam serapan gabah nasional yang dilakukan oleh Perum Bulog.
Data terbaru menunjukkan bahwa serapan gabah pada periode Januari hingga Maret 2025 mencapai 725.513 ton setara beras, meningkat tajam dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2015 yang hanya sebesar 30.964 ton.
Peningkatan ini mencapai 2000 persen dan menjadi salah satu capaian tertinggi dalam sejarah penyerapan gabah nasional.
Kementerian Pertanian menyebutkan beberapa faktor utama yang mendorong lonjakan tersebut, di antaranya:
1. Kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah
Pemerintah menaikkan HPP gabah dari Rp 5.500/kg menjadi Rp 6.500/kg. Kenaikan ini memberikan insentif yang lebih baik bagi petani untuk menjual hasil panen mereka kepada Bulog.
2. Penghapusan Rafaksi
Kebijakan baru menghapus sistem rafaksi, yang berarti gabah petani wajib dibeli oleh Bulog dalam kondisi apapun. Hal ini memberikan jaminan pasar dan kepastian harga bagi petani.
3. Tambahan Anggaran
Pemerintah menggelontorkan tambahan anggaran sebesar Rp 16,6 triliun untuk mendukung program penyerapan gabah secara nasional.
Dengan pencapaian ini, pemerintah berharap para petani semakin sejahtera dan masyarakat mendapat manfaat melalui pasokan beras yang lebih stabil dan harga yang terkendali. (Riris*)
