
Sragen, kabarterdepan.com – Matahari belum sepenuhnya naik ketika Mandra (42) menggulung jaringnya dari perairan Waduk Kedungombo. Di wajahnya tidak tampak semangat atau harapan, hanya lelah yang ditahan.
Dari jaring yang lusuh itu, bukan mujair atau nila yang keluar melainkan belasan ekor ikan sapu-sapu berduri tajam yang menggeliat keras, menempel seperti parasit.
“Kalau begini terus, kami bisa bangkrut. Jaring rusak, ikan nggak laku, mau makan apa keluarga di rumah?” keluh Mandra, nelayan yang tinggal di Desa Gilirejo, Kecamatan Miri, Sragen, Kamis (19/6/2025)
Dikatakan, sudah dua tahun belakangan, nelayan di Kedungombo hidup dalam ketidakpastian. Ikan sapu-sapu, spesies invasif asal Amerika Selatan yang awalnya diyakini lepas dari akuarium rumah tangga, kini mendominasi perairan waduk.
Dengan sisik sekeras amplas dan duri-duri tajam di seluruh tubuh, ikan ini menjadi musuh tak kasat mata yang memaksa nelayan bertekuk lutut.
” Jelas, bagi kami nelayan tangkapan ini sangat merugikan,” katanya.
Di masa lalu, lanjut Mandra waduk Kedungombo adalah sumber kehidupan. Nelayan memasang jaring, dan pulang dengan hasil tangkapan ikan mujair, nila, atau patin ikan yang bernilai jual dan menjadi sandaran ekonomi.
Kini, jaring dengan ukuran 2,5-3 inci yang dipasang di kedalaman 2-5 meter hanya dipenuhi ikan sapu-sapu.Yang lebih menyakitkan, tak satu pun pedagang ikan mau membeli hasil tangkapan itu.
“Serupiah pun tidak laku. Bahkan untuk makan sendiri kami ragu, takut racun atau penyakit,” tambah Mandra.
Para nelayan yang tergabung dalam Yayasan Kedungombo Berdaya akhirnya membuang ikan-ikan itu ke daratan, berharap bisa menghambat perkembangbiakan mereka.
Namun harapan itu seolah percuma. Setiap hari, berat total tangkapan ikan sapu-sapu bisa mencapai 5–10 kilogram. Sementara itu, populasi ikan asli kian menipis. Waduk yang dulu kaya kini seperti lautan kosong yang hanya menyisakan “penghuni kasar” tak diinginkan.
Bagi Mandra dan puluhan nelayan lain, hari-hari mereka kini adalah perjuangan panjang yang sunyi. Mereka merasa ditinggalkan dalam konflik yang bukan mereka ciptakan. Tak ada bantuan, tak ada solusi konkret.
Salah satu yang ikut bersuara adalah Nico Wauran, seorang pemerhati lingkungan, Menurutnya, fenomena ledakan populasi ikan sapu-sapu bukan hanya persoalan lokal. Ini adalah krisis ekologi dan ekonomi yang harus segera ditangani lintas sektor.
“Pemerintah jangan tinggal diam. Ini soal mata pencaharian masyarakat. Jangan biarkan nelayan berjuang sendiri,” tegas Nico
Menurutnya, diperlukan riset soal kandungan ikan sapu-sapu, perlu solusi pengendalian, bahkan mungkin inovasi pemanfaatan. Jangan biarkan nelayan terus membuang hasil tangkapan karena tak tahu harus berbuat apa.
Di balik sisik keras ikan sapu-sapu, tersembunyi persoalan besar: ketidaksiapan menghadapi invasi spesies asing, kurangnya edukasi soal ekosistem, serta minimnya perhatian terhadap nasib nelayan kecil.
“Mandra dan rekan nelayan lainnya tidak butuh belas kasihan, mereka butuh tindakan nyata, perlindungan atas ruang hidup mereka, dan dukungan agar bisa bertahan di tanah mereka sendiri,” pungkasnya.
Waduk Kedungombo, yang dulu menjadi tumpuan harapan, kini berubah menjadi ladang masalah. Dan hingga hari ini, jaring-jaring yang kembali dilempar ke air tetap menyimpan tanda tanya apakah hari ini mereka menangkap rezeki, atau sekadar membawa pulang derita. (Masrikin).
