Tangis Listiana, Istri Korban Pembangunan RS PKU Muhammadiyah Blora yang Khawatir Biaya Pendidikan Anaknya

Avatar of Redaksi
IMG 20250317 WA0159
Listiana : Istri pekerja yang menjadi korban jatuhnya crane pembangunan RS PKU Muhammadiyah Blora. (Fitri/kabarterdepan.com) 

Blora, Kabarterdepan.com- Listiana, istri Sumar yang menjadi salah satu korban dari 13 korban insiden jatuhnya lift crane pembangunan RS PKU Muhammadiyah Blora khawatir masa depan pendidikan kedua anaknya.

Kehawatiran itu menyelimuti ibu dua anak itu, lantaran saat ini Sumar masih terbaring di atas tempat tidur, dengan bekas-bekas luka atas insiden yang terjadi pada Sabtu (8/2/2025) lalu.

“Anak saya ada dua, satu mondok di pesantren Khozinatul ‘Ulum (Blora) dan yang satu lagi ini masih kelas enam (SD) dan mau lulus. Saya bingung untuk biaya pendidikan,” terang Listiana saat ditemui di kediamannya yang turut Desa Purworejo, Kecamatan/Kabupaten Blora, Senin (17/3/2025).

Listiana khawatir akibat cidera yang dialami Suaminya itu berimbas pada masa depan kedua anaknya. Diungkapkan fatalitas luka yang diderita Sumar itu adalah patah tulang serius, dibagian tulang kaki, tulang belakang, hingga tulang rusuk.

“(Sumar) Mangkih nak mboten saget merdamel, sekolahe larene kulo pripun (nanti kalo tidak bisa bekerja, sekolah anak saya gimana),” keluh Listiana.

“Uang saku sekolah, bayar sekolah, bayar pondok (pasantren), sangking pundi. Kan mboten gadah Kulo (kan saya tidak punya),” tambah dia.

Hingga saat ini atau lebih dari sebulan paska insiden itu, Listiana mengaku belum menerima tebusan atau kepastian untuk beasiswa pendidikan kedua anaknya. Baik dari Muhammadiyah maupun pemerintah Kabupaten Blora hingga tingkat desa.

Sementara, melihat Sumar dengan keterbatasannya saat ini, membuat Listiana yang biasa turut membantu perekonomian keluarga terpaksa meliburkan diri, dari segala pekerjaan yang ia lakukan.

Listiana mengaku klimpungan karena tidak dapat kembali bekerja. Pada keseharianya, ia melakukan aktivitas serabutan asalkan mendapatkan bayaran. Diantaranya menjadi buruh tani, nyuci dan nyetrika baju di tempat orang.

“Penghasilan utama dari bapak, saya hanya membantu (ekonomi keluarga). Kulo sakniki mboten saget merdamel, sak niki fokus kesehatane bapake (Saya sekarang tidak dapat bekerja, saya fokus pemulihan kesehatannya bapak),”keluh Listiana.

Lebih lanjut, Listiana mengungkapkan hingga saat ini pihaknya masih menerima gaji mingguan sesuai dengan apa yang diterima Sumar saat masih bekerja pada proyek pembangunan RS PKU Muhammadiyah Blora. Menurutnya penerimaan itu hanya berlangsung hingga proyek tersebut selesai.

“Setiap minggu masih dapat gaji mingguan. Setiap Minggu dapatnya Rp 520 ribu. Jadi seharinya sekitar Rp 85 ribu,” ujar Listiana.

Nanti kalau proyek selesai, sambung istri korban pembangunan RS PKU Muhammadiyah Blora, ia menghawatirkan biaya pendidikan hingga keberlanjutan keluarganya. Dimana kehawatiran itu melihat fatalitas luka Sumar yang tidak memungkinkan untuk bekerja, terlebih menjadi kuli bangunan.

“Bulan kemarin baru saja bayar biaya pendidikan di pondok pasantren, sekitar Rp 700 ribu berapa gitu, itu (pembayaran pondok) sudah saya lunasin sendiri. Mangkih kedepanne mboten ngertos, mergane mpun mboten megang uang (nanti kedepannya untuk pendidikan mboten ngertos. soalnya sudah tidak punya uang),” terangnya.

Disisilain, Listiana mengungkapkan beberapa uang yang ia terima dari beberapa pihak paska insiden tersebut. Diantaranya ada uang tunai Rp 1 juta yang dia terima paska kejadian berupa uang makan. Lalu, saat Sumar melakukan perawatan di Solo sebanyak Rp 3 juta. Selanjutnya dari Baznas sebesar Rp 1 Juta. Terakhir dari PKU sendiri Rp 2 Juta.

“Kalau sesuai akad untuk tali asih dari kecelakaan itu, tidak pernah ada. Setau saya yang Rp 3 juta di Solo itu untuk biaya kehidupan di Solo,” kata dia.

“Bupati ya tidak ada kesini (memberi bantuan),” tambah Listiana.

Sebagai informasi tambahan, atas insiden itu sebanyak 13 pekerja menjadi korban, tiga meninggal ditempat sementara dua lainya meninggal pada saat perawatan. Hingga saat ini delapan korban masih menjalani perawatan.(Fitri).

Responsive Images

You cannot copy content of this page