
Pasaman, Kabarterdepan.com – Suasana dini hari yang seharusnya tenang di Jorong Kubu Padang Beriang, Nagari Panti Timur, berubah menjadi kepanikan dan isak tangis. Rumah permanen dua lantai milik Yusbeni (49) terbakar hebat saat seluruh penghuni tengah tertidur lelap, Kamis (12/6/2025) dini hari pukul 03.30 WIB.
Pegawai tata usaha di SMP Negeri 2 Panti itu terbangun karena teriakan anaknya yang mencium bau asap. Api sudah membesar dari arah dapur. Dalam gelap dan kepulan asap, ia membangunkan istri dan keempat anaknya, lalu menyelamatkan mereka satu per satu. Tak ada waktu menyelamatkan barang-barang. Semuanya habis.
“Waktu bangun, semua ruangan sudah penuh asap. Kami hanya bisa keluar menyelamatkan diri. Semua habis,” ujar Yusbeni dengan suara lirih, matanya sembab dan tubuhnya tampak lelah.
Api baru berhasil dipadamkan sekitar pukul 07.15 pagi. Wali Nagari Panti Timur, Esgianto, menjelaskan bahwa api diduga berasal dari tungku kayu yang lupa dimatikan usai digunakan merebus air.
Bara dari tungku menyambar dinding dapur yang terbuat dari bahan mudah terbakar. Rumah utama dan paviliun bertingkat di belakang habis dilalap api, menyebabkan kerugian yang diperkirakan mencapai lima ratus juta rupiah.
Tak ada korban jiwa, namun trauma dan duka masih menggantung di langit-langit keluarga ini yang kini tak lagi punya atap.
Wakil Bupati Pasaman, Parulian Dalimunthe, tiba di lokasi pada siang hari. Ia menyaksikan langsung puing-puing hitam yang berserakan di lantai bekas rumah dan menyerahkan bantuan tunai sebesar lima juta rupiah yang disalurkan melalui Baznas Pasaman.
“Sulit membayangkan bagaimana keluarga ini menyelamatkan diri dalam kobaran api sebesar itu,” ujar Parulian, prihatin.
Ia menyampaikan belasungkawa dan menguatkan keluarga korban atas nama Pemerintah Kabupaten Pasaman.
“Musibah ini ujian dari Allah bagi hamba yang kuat. Semoga keluarga Pak Beni diberikan ketabahan. Kita doakan akan ada gantinya yang lebih baik,” katanya.
Wabup juga mengingatkan warga agar lebih waspada. Dalam sepekan terakhir, tiga kebakaran terjadi di Kabupaten Pasaman: satu di Dua Koto dan dua di Panti. Ia menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap peralatan listrik, kompor gas, maupun tungku kayu yang masih lazim digunakan warga.
“Jangan remehkan api sekecil apapun. Bara yang tertinggal bisa mengubah rumah jadi abu. Ini sudah peringatan nyata bagi kita semua,” tegasnya.
Pemerintah daerah tengah mengoordinasikan langkah-langkah pemulihan pascakebakaran, termasuk pendampingan keluarga terdampak dan edukasi pencegahan kebakaran berbasis rumah tangga.
Kini, di bawah langit Panti yang mendung, keluarga Yusbeni hanya bisa berharap agar malam-malam ke depan tak lagi dipenuhi suara sirine dan jeritan, melainkan ketenangan yang sempat direnggut api. (FajarPR)
