
Sampang, kabarterdepan.com – Kasus murid yang merokok di SMAN 1 Cimarga, Banten, yang ditampar kepala sekolah masih menjadi perbincangan hangat publik. Meski kedua pihak telah berdamai, kasus ini menyisakan kekhawatiran baru di dunia pendidikan, terutama bagi para pendidik yang khawatir langkah mereka dalam menegakkan disiplin justru bisa berujung masalah hukum .
Melihat fenomena tersebut, kabarterdepan.com menelusuri bagaimana sikap sekolah dan pegiat pendidikan di Sampang. Kepala SMAN 3 Sampang, Ahmad Saifuddin, menegaskan pihaknya memilih pendekatan pembinaan melalui ruang restitusi, bukan kekerasan fisik.
Ruang ini digunakan untuk menanamkan nilai keimanan dan ketakwaan, dengan kegiatan seperti membaca Alauran dan berzikir agar siswa lebih tenang dan terbuka pikirannya.
“Pendekatan kami lebih ke hati. Anak yang salah tetap harus dibina, bukan dimarahi. Kami ingin mereka sadar sendiri lewat nilai-nilai agama,” ujar Saifuddin, saat diwawancarai kabarterdepan.com di ruangannya, Jumat (24/10/2025)
Selain itu, SMAN 3 juga membentuk kanal pelaporan khusus bagi siswa yang ingin melaporkan pelanggaran seperti perundungan, kekerasan, hingga penyalahgunaan narkoba. Laporan masuk akan ditangani oleh Satgas khusus di bawah bagian kesiswaan.
Saifuddin menambahkan, pembentukan karakter siswa berawal dari guru.
“Kalau gurunya slengekan, ya siswanya bisa ikut. Jadi saya selalu tekankan guru harus jadi teladan dalam tutur dan sikap,” jelasnya.
Respon Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Sampang
Senada dengan hal itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur wilayah Sampang, Mas’udi Hadiwijaya, menegaskan pentingnya keseimbangan antara ketegasan dan pendampingan.
“Guru punya peran kunci dalam membentuk batasan dan konsistensi pemberian sanksi. Tapi yang tak kalah penting adalah memberi ruang bagi siswa untuk memperbaiki diri dengan bimbingan dan komunikasi yang baik,” ujarnya.
Menariknya, di sela wawancara dengan kabarterdepan.com, muncul keluhan dari pihak kantin sekolah terkait dampak program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Salah satu penjual, Yuli, menyampaikan penurunan omzet hingga 40 persen karena siswa sudah kenyang setelah menerima MBG.
“Hari ini saya cuma jual tiga porsi dan lima botol minum. Biasanya bisa sampai sepuluh kali lipat,” ungkapnya.
Menanggapi hal itu, Saifuddin berjanji akan menyesuaikan jadwal pembagian MBG.
“Kami akan bagikan setelah jam istirahat pertama agar anak-anak tetap bisa jajan di kantin. Sekolah dan kantin harus sama-sama jalan,” tegasnya.
Sebagai penutup, refleksi dari kasus di Banten dan pengalaman di Sampang memperlihatkan bahwa dunia pendidikan saat ini dihadapkan pada tantangan baru. Menjaga disiplin tanpa kehilangan empati, pendidikan sejatinya bukan sekadar menegakkan aturan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran dan karakter.
“Menegur bukan berarti menghukum, mendidik bukan berarti melukai. Guru tetap harus tegas, tapi dengan cara yang menumbuhkan,” ujar Mas’udi menutup wawancara melalui panggilan Whatsapp, Jumat (24/10/2025)
Pada akhirnya, seperti yang disampaikan Saifuddin,
“Sekolah adalah tempat belajar bagi semua, bukan hanya untuk siswa, tapi juga untuk para guru agar terus belajar menjadi pendidik yang lebih bijak.” ujarnya saat kabarterdepan.com mintai untuk memberikan sedikit closeing statment. (Fais)
