Sulap Limbah Sungai Jadi Diorama 3D, Pria di Jombang Ini Raup Omzet Hingga Puluhan Juta

Avatar of Redaksi
Diorama 3D
Perajin diorama Catra Hermawan saat menunjukkan hasil karyanya. (Karimatul Maslahah/Kabarterdepan.com)

Jombang, Kabarterdepan.com – Di Dusun Mojojejer, Kecamatan Mojowarno, tumpukan karton bekas, gabus, stik es krim, hingga limbah sungai yang telah dibersihkan memenuhi sebuah bangunan sederhana.

Dari material-material itulah Catra Hermawan, perajin diorama 3D, membangun karya-karya unik yang kini dikenal hingga mancanegara.

Catra, 38 tahun, memulai kembali hobi lamanya ketika pandemi Covid-19 mengancam pekerjaannya. Saat banyak aktivitas terhenti, ia justru menjadikan limbah termasuk yang ia temukan di sekitar sungai dekat rumahnya sebagai bahan utama.

“Limbah-limbah itu saya lihat berserakan dan kurang termanfaatkan. Dari situ saya coba kembangkan jadi produk yang bernilai,” ujarnya, Kamis (27/11/2025).

Limbah Jadi Miniatur Diorama 3D Berbagai Tema Sejarah dan Budaya

Berawal dari eksperimen kecil, Catra mulai memanfaatkan stereofoam bekas alat elektronik, karton, potongan kayu kecil, hingga sampah ringan dari bantaran sungai seperti serpihan kayu dan plastik tebal yang aman digunakan. Limbah itu ia sulap menjadi berbagai miniatur bertema sejarah, diorama kapal, kaligrafi, sampai lampion dekoratif.

Setiap karya melewati proses panjang. Ia menelusuri banyak referensi dari media sosial, terutama saat mendapat pesanan khusus. Temanya beragam, mulai kerajaan Majapahit hingga era abad pertengahan Eropa.

Untuk pesanan luar negeri, Catra menyesuaikan materialnya agar aman dan lolos bea cukai, serta tidak menggunakan bahan yang mudah terbakar.

WhatsApp Image 2025 11 27 at 3.27.42 PM

Durasi pengerjaan juga berbeda-beda. Beberapa karya dapat diselesaikan dalam hitungan hari, namun proyek besar dan penuh detail bisa memakan waktu bertahun-tahun. Salah satu karyanya bahkan selesai setelah proses kreatif selama tiga tahun.

Meski begitu, ia menghadapi kendala bahan baku tertentu.

“Stereofoam bekas lumayan sulit ditemukan, sehingga saya harus membeli dari warga yang masih menyimpannya,” tuturnya.

Kini, karya Catra digunakan untuk pajangan interior, media edukasi, promosi properti, hingga mendukung produksi film luar negeri.

Harga karyanya bervariasi: mulai Rp200 ribu–Rp500 ribu untuk ukuran kecil, Rp1 juta–Rp2 juta untuk ukuran besar, dan karya dengan detail tinggi dapat mencapai Rp5 juta hingga Rp10 juta.

Pendapatannya pun tak main-main. Dalam masa ramai pesanan, ia dapat meraup Rp20 juta–Rp25 juta per bulan.

“Sementara ketika dapat proyek internasional, pemasukan bisa melonjak hingga Rp80 juta,” ungkapnya.

Dari bahan-bahan sederhana, termasuk limbah sungai yang sering tak dipandang, Catra berhasil membuktikan bahwa kreativitas mampu mengubah sampah menjadi karya bernilai ekonomi tinggi.

“Selama ada kemauan, insya Allah selalu ada jalan,” pungkasnya. (Karimatul Maslahah)

Responsive Images

You cannot copy content of this page