Sudan Dilanda Kelaparan Parah, Jutaan Orang Terancam

Avatar of Redaksi
IMG 20241226 WA0000
Potret kelaparan di Sudan (UNICEF)

New York, Kabarterdepan.com – Setelah empat bulan bencana kelaparan pertama kali terdeteksi di kamp Zamzam, Darfur Utara, Sudan, situasi terus memburuk. Laporan terbaru dari Food and Agriculture Organization (FAO), World Food Programme (WFP), dan UNICEF mengungkap bahwa kelaparan kini menyebar ke wilayah-wilayah lain, termasuk Abu Shouk, Al Salam, dan Pegunungan Nuba Barat.

Data dari Famine Review Committee (FRC) dan Integrated Food Security Phase Classification (IPC) menunjukkan bahwa kelaparan telah dipastikan di lima wilayah Sudan dan diproyeksikan meluas ke lima wilayah lainnya, seperti Um Kadadah dan Melit di Darfur Utara, antara Desember 2024 hingga Mei 2025. Selain itu, 17 wilayah lain juga menghadapi risiko kelaparan di periode yang sama.

Saat ini, lebih dari 24,6 juta penduduk Sudan mengalami kerawanan pangan akut. Dari jumlah tersebut, 8,1 juta berada dalam kondisi darurat dan setidaknya 638.000 orang berada dalam kategori bencana. Situasi ini mengkhawatirkan karena terjadi saat musim panen, yang seharusnya menjadi waktu ketersediaan pangan tertinggi.

Namun, konflik berkepanjangan, pengungsian massal, dan gangguan logistik membuat hasil panen tidak bisa menjangkau banyak wilayah. Tanpa bantuan kemanusiaan segera dan dukungan internasional, kelaparan berisiko menyebar lebih luas, mengancam jutaan nyawa, terutama anak-anak.

Kekerasan yang terus berlangsung di Sudan mengganggu pasar, meningkatkan harga bahan pokok, dan membuat jutaan orang kehilangan tempat tinggal. Kamp Zamzam, tempat kelaparan pertama kali dikonfirmasi pada Agustus 2024, masih dalam kondisi kritis meskipun sudah menerima beberapa bantuan pangan.

Musim kelaparan berikutnya diperkirakan datang lebih cepat sebelum musim hujan, memperburuk kondisi. Penyumbatan jalur kemanusiaan dan tantangan logistik menambah kesulitan pengiriman bantuan.

FAO, WFP, dan UNICEF menyerukan kepada komunitas internasional untuk segera mengambil tindakan. Mereka meminta pendanaan darurat, penghentian konflik, dan akses tanpa hambatan ke wilayah-wilayah terdampak.

Direktur Keadaan Darurat dan Ketahanan FAO, Rein Paulsen, menyatakan keprihatinannya terhadap situasi ini, terutama di kamp Zamzam, Darfur Utara.

“FAO sangat prihatin dengan memburuknya situasi keamanan pangan di Sudan, khususnya di kamp pengungsi Zamzam dan pemukiman lain di daerah yang terkena dampak konflik. Kondisinya memburuk dengan cepat, dan semakin banyak orang terjerumus ke dalam kondisi darurat atau kelaparan,” ujarnya dikutip dari siaran pers UNICEF, Selasa (24/12/2024).

Paulsen menekankan bahwa kelaparan dapat dihentikan jika ada tindakan kolektif yang cepat.

“Kita harus menghentikan kelaparan di Sudan – itu bisa dilakukan. Kita membutuhkan akses kemanusiaan yang segera dan tanpa hambatan untuk mengirimkan makanan, air, kesehatan, dan bantuan pertanian darurat. Penghentian permusuhan juga merupakan langkah awal yang penting. Kita harus bertindak sekarang, demi jutaan orang yang hidupnya terancam,” tambahnya.

Jean-Martin Bauer, Direktur Analisis Keamanan Pangan dan Gizi WFP, menggambarkan situasi yang menyedihkan di lapangan.

“Kelaparan berkepanjangan tengah melanda Sudan. Orang-orang semakin lemah dan sekarat karena tidak memiliki akses ke makanan selama berbulan-bulan,” ungkapnya.

Bauer juga menyoroti upaya WFP untuk menyalurkan bantuan pangan ke wilayah-wilayah yang paling membutuhkan meskipun situasi di lapangan sangat berbahaya.

“Kami terus menyesuaikan operasi kami seiring dengan perkembangan konflik, memberikan bantuan di mana dan kapan pun kami bisa. Namun, kemajuan operasional baru-baru ini rapuh karena situasi di lapangan tidak stabil,” paparnya.

Sementara itu, Direktur Operasi Darurat UNICEF, Lucia Elmi, menyampaikan keprihatinan atas dampak krisis ini pada anak-anak Sudan.

“Konflik yang sedang berlangsung, pengungsian terus-menerus, dan wabah penyakit yang berulang telah menciptakan lahan subur yang berbahaya bagi kekurangan gizi di Sudan. Jutaan nyawa anak muda berada dalam ketidakpastian,” jelasnya.

Elmi menekankan pentingnya bantuan segera berupa makanan, air, dan obat-obatan terapeutik untuk menyelamatkan nyawa anak-anak yang paling rentan.

“Kita memerlukan akses yang aman, berkelanjutan, dan tanpa hambatan untuk menjangkau anak-anak yang paling membutuhkan,” imbuhnya.

UNICEF, WFP, dan FAO terus meningkatkan respons kemanusiaan mereka dengan memberikan bantuan kesehatan, gizi, dan akses air bersih ke wilayah-wilayah yang paling membutuhkan.

Namun, mereka menegaskan bahwa tanpa dukungan internasional yang memadai, krisis ini bisa menjadi salah satu bencana kemanusiaan terbesar pada 2025. Tindakan segera menjadi kunci untuk menyelamatkan jutaan nyawa di Sudan. (Riris*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page