Status Gunung Kerinci Naik ke Level II, Waspada dan Antisipasi Dini Ditekankan

Avatar of Redaksi
Screenshot 20241223 115130 Google
Potret gunung kerinci saat semburkan abu 800 meter. (Redaksi / Kabarterdepan.com)

Sumatera, Kabarterdepan.com – Aktivitas Gunung Kerinci, gunung api tertinggi di Sumatera, menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data yang dirilis oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), gunung yang berada di Provinsi Jambi dan menjadi salah satu ikon wisata Indonesia ini kini berada pada status Level II atau Waspada.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat di sekitar kawasan dan wisatawan diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah puncak guna mengantisipasi potensi bahaya yang mungkin terjadi.

Pengamatan visual pada Desember 2024 menunjukkan adanya aktivitas berupa asap kawah dengan dominasi uap air yang keluar dari kawah utama. Asap ini memiliki intensitas tipis hingga sedang dengan ketinggian mencapai 150 meter dari puncak.

Meski belum ditemukan adanya material padat seperti abu vulkanik atau batuan yang keluar dari kawah, peningkatan aktivitas kegempaan terdeteksi sejak 21 Desember dini hari. Pada rentang waktu sekitar dua jam, tercatat sebanyak 11 kejadian gempa vulkanik dalam (VA).

“Bahaya yang mungkin terjadi saat ini meliputi gas vulkanik berkonsentrasi tinggi dan lontaran batuan jika terjadi erupsi mendadak,” ujar Muhammad Wafid, Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Beliau menekankan bahwa masyarakat harus mematuhi semua rekomendasi resmi dari PVMBG demi menghindari risiko yang lebih besar.

Hasil pengamatan visual selama periode 1-20 Desember 2024 menunjukkan bahwa Gunung Kerinci sering kali terlihat jelas, meskipun pada beberapa waktu tertutup oleh kabut. Saat cuaca cerah, asap kawah utama yang keluar dari gunung terlihat berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang. Tinggi kolom asap mencapai 50-150 meter, menunjukkan dominasi uap air tanpa indikasi adanya material vulkanik seperti abu atau batuan yang keluar ke permukaan.

Dalam periode tersebut, aktivitas kegempaan didominasi oleh gempa embusan dengan total kejadian mencapai 1.884 kali. Selain itu, tercatat tujuh gempa vulkanik dangkal, tiga gempa vulkanik dalam, dan 14 gempa tektonik jauh. Namun, pada 21 Desember 2024, sekitar pukul 03.50 WIB, terjadi peningkatan signifikan pada aktivitas gempa vulkanik dalam.

Dalam waktu dua jam, sebanyak 11 gempa tercatat dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi 5-25 detik. Grafik RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement), yang mencerminkan energi gempa, menunjukkan pola fluktuatif dan sedikit peningkatan menjelang akhir periode pengamatan.

“Status Gunung Kerinci saat ini masih berada pada Level II atau Waspada. Kami merekomendasikan masyarakat, pendaki, maupun wisatawan untuk menjauhi area dalam radius tiga kilometer dari kawah,” tulis PVMBG dalam laporannya.

Gunung Kerinci saat ini berpotensi menimbulkan bahaya berupa gas vulkanik dengan konsentrasi tinggi yang dapat berdampak pada kesehatan, serta lontaran batuan jika terjadi erupsi tiba-tiba. Pihak PVMBG mengingatkan bahwa aktivitas vulkanik seperti ini bisa saja terjadi tanpa tanda-tanda yang jelas, sehingga kewaspadaan perlu terus ditingkatkan.

Masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Kerinci, khususnya di kawasan rawan bencana, diminta untuk tidak melakukan aktivitas apapun di dalam radius tiga kilometer dari kawah puncak. Selain itu, masyarakat juga diminta tidak menyebarkan atau mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait aktivitas gunung api ini. Semua informasi resmi disampaikan melalui kanal PVMBG, Magma Indonesia, atau pos pengamatan setempat.

PVMBG bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pemerintah daerah, serta instansi terkait lainnya untuk terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Kerinci. Pos pengamatan Gunung Kerinci yang terletak di Desa Lindung Jaya, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, juga menjadi pusat pemantauan utama di lapangan.

Koordinasi intensif dilakukan untuk memastikan langkah mitigasi dapat dilaksanakan secara cepat dan tepat. Pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jambi dan Kabupaten Kerinci juga berperan aktif dalam memberikan informasi terkini kepada masyarakat.

“Masyarakat harus tenang, tetapi tetap waspada. Jangan melakukan aktivitas berisiko di kawasan rawan bencana dan patuhi instruksi yang diberikan oleh pihak berwenang,” tambah Muhammad Wafid.

Masyarakat dapat memantau informasi terkini mengenai aktivitas Gunung Kerinci melalui platform resmi seperti Magma Indonesia, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), atau pos pengamatan setempat. Dengan adanya pengawasan yang berkelanjutan, pemerintah berkomitmen untuk memberikan perlindungan maksimal kepada masyarakat di sekitar kawasan gunung api aktif ini.

Meskipun Gunung Kerinci saat ini belum menunjukkan gejala erupsi besar, kesiapan semua pihak sangat diperlukan untuk mengantisipasi potensi bahaya yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Pemerintah terus mengimbau agar masyarakat tetap mematuhi arahan resmi dan menghindari penyebaran berita palsu demi keamanan bersama. (Firda*)

Responsive Images

You cannot copy content of this page