Sri Sultan HB X Yogyakarta Minta Pengosongan Pantai Sanglen Kedepankan Dialog

Avatar of Redaksi

 

IMG 20250730 WA0024
Gubernur DIY Sri Sultan HB X saat ditemui di komplek Kepatihan, Danurejan, Kota Yogyakarta, DIY, Selasa (29/7/2025). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Yogyakarta, kabarterdepan.com – Gubernur DIY Sri Sultan HB X minta ada ruang dialog antara warga Pantai Sanglen untuk melakukan pengosongan lahan di kawasan tersebut.

Sultan menyampaikan jangan sampai mengesampingkan kehidupan warga untuk mendapatkan hidup layak.

“Iya enggak apa-apa, mau dialog aja enggak apa-apa di dialogin aja gitu, untuk dipahami statusnya tanah bagaimana ya kan, ada penggantinya enggak? Jangan ditelantarkan,” katanya saat diwawancarai di komplek Kepatihan, Danurejan, Kota Yogyakarta, DIY, Selasa (29/7/2025).

Terkait pengosongan lahan di kawasan pantai Sanglen, Ngarsa Dalem menyerahkan urusan tersebut kepada Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) DIY maupun Gunungkidul.

“Itu silahkan saja (dialog), urusannya bagian pertanahan. Kita lihat dulu apa yang dilakukan,”katanya.

Sultan menyampaikan pemerintah membuka kesempatan investasi untuk kemajuan daerah.

Terkait adanya rencana pembangunan hotel di lokasi warga tinggal, Sultan menyampaikan bahwa hal tersebut sangat memungkinkan.

Kendati begitu, pembangunan hotel disebutnya perlu ada izin dari dirinya sebagai gubernur.

“Ya mungkin saja, lainnya kan juga ada hotel di situ, enggak ada masalah” kata Ngarsa Dalem.

“Maksudnya kan enggak masalah. Silahkan aja yang penting kan untuk bikin apa disetujui oleh Gubernur ya boleh aja, terserah untuk investasi atau apa silahkan aja, tapi rembugan yang baik,” imbuhnya.

Sebelumnya, warga Sanglen didampingi oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta menolak pindah.

Terkait hal tersebut, Ngarsa Dalem eminta agar pihak terkait dapat melakukan pendketan secara bijak untuk bisa diselesaikan.

Sultan memberi gambaran kondisi Pedagang Kaki Lima yang berjualan di Jalan Malioboro yang berhasil diselesaikan selama 2 tahun. Hal tersebut selayaknya menjadi contoh bagaimana pemindahan warga bisa diselesaikan.

“Saya biar memfasilitasi PKL juga suruh pindah, rong tahun (dua tahun) ya tetep ngeyel ya kan. Ini nyatanya juga pindah semua,” katanya.

“Soalnya kalau enggak pindah kesana mau kemana dia, yang penting ada pembicaraan yang baik enggak usah bicara hak-hak-an,” imbuh Sultan.

Ngarsa Dalem menyampaikan tak mengetahui secara pasti alasan warga sekitar yang menolak pindah, mengingatk kawasan tersebut meruoakan Sultan Ground (SG).

Sultan memberikan solusi atas warga yang menolak pindah dengan memberikan pesangon. “Kalau memang dia tidak punya hak ya bagaimana ? Apakah kasih pesangon, kasih pesangon itu sudah dianggap memadai enggak? Nah itu kan harus dibicarakan,” katanya. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page