Ratusan Siswa Alami Gejala Keracunan MBG, SPPG di Sleman Buka Suara

Avatar of Jurnalis: Ahmad
SPPG Yayasan Maporina, Sleman saat didatangi, Jumat (24/10/2025). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)
SPPG Sinduadi Yayasan Maporina, Sleman saat didatangi, Jumat (24/10/2025). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Sleman, kabarterdepan.com – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sinduadi Yayasan Masuarakat Pertanian dan Petani Organik (Maporina) Mlati Sleman memberikan tanggapan terkait ratusan siswa yang mengalami gejala keracunan makan bergizi gratis (MBG). Para siswa tersebut mengalami pusing dan diare setelah menyantap MBG, Jumat (24/10/2025).

Pembina Yayasan Maporina Retno Susanti menyampaikan bahwa menu-menu yang disajikan kepada sejumlah sekolah seperti SMPN 2 Mlati, SD Jombor Lor, dan MAN 3 Yogyakarta telah ditarik.

Penyebab Keracunan Diselidiki

Pihaknya belum bisa memastikan apakah ratusan siswa yang terdampak tersebut mengalami keracunan atau faktor lainya.

“Kami tegaskan belum tahu ini keracunan atau bukan, saat bantu proses penelitian. Jadi kita belum bisa memastikan ada racun atau bakteri kita, menunggu konfirmasi,” katanya saat dikonfirmasi wartawan.

Dapur yabg kelola SPPG Maporina setiap hari menyajikan sekitar 4 ribu porsi. Sementara untuk 2 sekolah yang pada hari Kamis (23/10/2025) yang disajikan kepada SMPN 2 Mlati, dan MAN 3 Sleman sebanyak 1800 porsi.

Terkait keberlanjutan operasional, ia menyampaikan belum bisa memastikan karena masih dalam penelitian oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, Puskeamas Mlati I, dan Tim Inafis.

“Kita belum bisa memastikan (keberlanjutan), menunggu BGN merekomendasikan ke kita lainiya. Kalau untuk Sabtu Minggu yabg jelas masih libur,” katanya.

SPPG Yayasan Maporina, Sleman saat didatangi, Jumat (24/10/2025). (Hadid Husaini/kabarterdepan.com)

Prosedur Memasak

Retno menyampaikan secara prosedur proses memasak dimulai pukul setengah 3 pagi diawali dengan pemanasan kompor. Sementara penyajian dilakukan dalam 2 gelombang.

“Waktunya di pagi sudah harus siap yang pagi jam 8 pagi, setelah utu yang jam 10 pagi,” ujarnya.

Teruntuk MBG yang tidak termakan, dikategorikan sebagai sampah dan diangkut kembali ke SPPG. Sampah makanan tersebut menurutnya telah memilki tempat pembuangan.

“Kita ada tempat pembuangan sampahnya untuk sisa sisa, jadi per seminggu 2 kali disedot,” ujarnya. (Hadid Husaini)

Responsive Images

You cannot copy content of this page