Sound Horeg MSC 2026 Medali Mojokerto Tuai Kritik

Avatar of Jurnalis: Ahmad
Tangkapan layar video penampilan sound horeg di Medali Mojokerto yang ramai di media sosial. (Redaksi/kabarterdepan.com)
Tangkapan layar video penampilan sound horeg di Medali Mojokerto yang ramai di media sosial. (Redaksi/kabarterdepan.com)

Mojokerto, Kabarterdepan.com –
Gelaran sound horeg Medali Spectacular Carnival (MSC) 2026 di Desa Medali, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, menjadi perbincangan hangat di jagat maya. Karnaval yang menghadirkan puluhan sound horeg itu menyedot perhatian karena berlangsung jauh lebih lama dari jadwal semula, bahkan hingga menjelang fajar.

Acara yang digelar pada Sabtu (14/2/2026) awalnya ditargetkan rampung sebelum tengah malam. Namun, iring-iringan kirab dan penampilan peserta justru terus berlanjut sampai Minggu, (15/2/2026) sekitar pukul 04.30 WIB.

Dentuman musik yang terus terdengar sepanjang malam pun memantik beragam respons dari masyarakat, khususnya warganet.

Di berbagai platform media sosial, komentar bernada protes mulai bermunculan. Sejumlah akun mempertanyakan durasi kegiatan yang dinilai mengganggu waktu istirahat warga.

“Boleh ya min acara 24 jam, yang lain kok tidak boleh, ada apa ini, acara khusus bagi warga yang budek,” tulis akun @wulanxxx di salah satu postingan MSC.

“Jan asli ga duwe wayah mas, usume wong turu jek dang dung dang dung tekan soboh (Asli tidak tahu waktu mas, waktunya orang tidur masih dang dung sampai subuh),” komentar akun @_wildanxxx.

“Bener, sampe subuh blm berhenti2, rumahku Mlaten masih denger tadi subuh,” ujar @bagaspraxxx.

“Jam 5.20 baru bener 2 sirep. Wayah adzan subuh malah dikencengin. @gusbarra_ kebacut gus, ngeten kok diizini mawon (keterlaluan gus, seperti ini kok masih saja diizinkan),” kata @dinda.dailyxxx.

Meski menuai kritik, MSC 2026 tetap dipadati ribuan penonton. Dari sejumlah video yang beredar, terlihat antusiasme warga yang bertahan menyaksikan kemeriahan karnaval hingga dini hari.

32 Sound Horeg

Kepala Desa Medali, Miftahuddin, membenarkan bahwa kegiatan yang melibatkan 32 sound horeg tersebut dimulai sekitar pukul 14.00 WIB dan baru berakhir pukul 04.30 WIB. Ia menyebutkan, saat waktu salat subuh tiba, suara sempat dihentikan sementara sebelum kirab dilanjutkan sampai seluruh peserta memperoleh kesempatan tampil.

“Keinginan kami selesai sesuai izin keramaian. Pada kenyataannya banyak kendala di lapangan,” katanya, Senin (16/2/2026) sore.

Menurut Miftahuddin, keterlambatan itu dipicu sejumlah hambatan teknis di sepanjang rute. Beberapa kabel wifi dan kabel listrik yang menjuntai rendah sempat menghalangi truk pengangkut sound horeg. Selain itu, ada kendaraan peserta yang tiba-tiba mengalami kerusakan sehingga memperlambat jalannya arak-arakan.

“Harusnya selesai jam 12 malam, sampai jam 04.30. Kalau kami setop karnavalnya, malah kami diprotes peserta. Karena mereka persiapan habis banyak ternyata diberhentikan,” tandasnya.

Editor: Ahmad

Responsive Images

You cannot copy content of this page